Tuesday, June 29, 2010 at 6:36pm Uploaded via Facebook Mobile
Tadi pagi, aku dan pak siantari dipanggil oleh bu dekan. Intinya kami bertiga: pak siantari, sulis dan mbak maya sesuai hasil rapat senat fakultas, ditunjuk sebagai panitia pemilihan dekan fakultas ilmu sosial dan humaniora uin sunan kalijaga, periode 2010-2013. It's ok, mulai tadi siang kami sudah mulai bekerja tuk mempersiapkan hajatan besar itu. Semoga acaranya bisa berjalan lancar. Semoga bisa terpilih dekan fishum yg progresif, visioner dan populis! Amien! Hidup Fishum! Bakti kami padamu:-)
Kamis, 08 Juli 2010
Mars SMA 5 dan Himne UGM
Thursday, July 1, 2010 at 7:50pm Uploaded via Facebook Mobile
Aha! Bersenandung lagu mars SMA 5 Jogja and Himne UGM membuatku slalu semangat neh! Wah2 energi kimianya luar biasa :-). Keren and mantab tenan! Gak ada matinya,pokoke! I love SMA 5 Jogja (Puspanegara) and UGM! Terimakasih banyak buat para guru di SMA 5 Jogja dan para dosen di Fisipol UGM atas segala ilmunya.. Bravo Puspanegara dan UGM:-)
Aha! Bersenandung lagu mars SMA 5 Jogja and Himne UGM membuatku slalu semangat neh! Wah2 energi kimianya luar biasa :-). Keren and mantab tenan! Gak ada matinya,pokoke! I love SMA 5 Jogja (Puspanegara) and UGM! Terimakasih banyak buat para guru di SMA 5 Jogja dan para dosen di Fisipol UGM atas segala ilmunya.. Bravo Puspanegara dan UGM:-)
PETERPAN: Karya2mu keren abies:-)
Saturday, July 3, 2010 at 6:28pm Uploaded via Facebook Mobile
Peterpan,band dari bandung. Aq mengenalmu sekitar tahun 2002. Dari album perdanamu, aq sudah ngefans berat dengan karya2mu. Seperti halnya aq ngefans berat dg Sheila on 7, band dari jogja. Setiap ada album baru dari peterpan, aq slalu beli kasetnya. Tidak sekedar itu aku juga liat konser Peterpan pas di Jogja. (Waktu Peterpan konser bareng dg UNGU juga:-)). Terlepas dari masalah yg sedang menimpa Ariel,sang vocalis Peterpan, aq masih tetep jadi fansnya Peterpan.. Karya2mu gak akan pernah mati Peterpan!:-)
Peterpan,band dari bandung. Aq mengenalmu sekitar tahun 2002. Dari album perdanamu, aq sudah ngefans berat dengan karya2mu. Seperti halnya aq ngefans berat dg Sheila on 7, band dari jogja. Setiap ada album baru dari peterpan, aq slalu beli kasetnya. Tidak sekedar itu aku juga liat konser Peterpan pas di Jogja. (Waktu Peterpan konser bareng dg UNGU juga:-)). Terlepas dari masalah yg sedang menimpa Ariel,sang vocalis Peterpan, aq masih tetep jadi fansnya Peterpan.. Karya2mu gak akan pernah mati Peterpan!:-)
MAAP ya LE !!!
Friday, July 2, 2010 at 6:27pm Uploaded via Facebook Mobile
Hari ini full banget. Pagi ngisi pembekalan mahasiswa kkn semester pendek. Habis itu ke lokasi kkn di terban. Dilanjutkan bimbingan mahasiswa di prodi. And the last diskusi dg temen2. Sampe rumah jam 17.00. Anakku lanang sudah menyapaku: "ibuk, aku sudah mandi. Aku pakai baju sendiri lho". Kujawab: wah, keren tuh. Anak pinter. Kemudian tyo minta diriku tuk muterkan cd interaktif. Tapi sayang banget, ternyata dvd roomnya error. Duh, kasihan banget liat anakku lanang kecewa.Tyo masuk kamarnya dan bobok:'(
Hari ini full banget. Pagi ngisi pembekalan mahasiswa kkn semester pendek. Habis itu ke lokasi kkn di terban. Dilanjutkan bimbingan mahasiswa di prodi. And the last diskusi dg temen2. Sampe rumah jam 17.00. Anakku lanang sudah menyapaku: "ibuk, aku sudah mandi. Aku pakai baju sendiri lho". Kujawab: wah, keren tuh. Anak pinter. Kemudian tyo minta diriku tuk muterkan cd interaktif. Tapi sayang banget, ternyata dvd roomnya error. Duh, kasihan banget liat anakku lanang kecewa.Tyo masuk kamarnya dan bobok:'(
Menunggu BALON
Today at 1:33pm Uploaded via Facebook Mobile
8 juli sampe 12 juli 2010 sesuai agenda pemilihan dekan adalah merupakan hari pendaftaran BALON Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga . Duh hari pertama menunggu dari pagi sampe siang koq BALON nya belum ada yg dateng ya?! Sepi+Nglangut tenan ki. Listrik mati juga dari tadi pagi. Gerimispun mengundang dan hujanpun dateng.Wah,lengkap sudah neh:-)
8 juli sampe 12 juli 2010 sesuai agenda pemilihan dekan adalah merupakan hari pendaftaran BALON Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga . Duh hari pertama menunggu dari pagi sampe siang koq BALON nya belum ada yg dateng ya?! Sepi+Nglangut tenan ki. Listrik mati juga dari tadi pagi. Gerimispun mengundang dan hujanpun dateng.Wah,lengkap sudah neh:-)
Senin, 05 Juli 2010
terima kasih Allah..
Terima kasih Allah atas segala curahan nikmat-Mu... Alhamdulillah, atas segala karunia sehat yang Engkau berikan kepadaku dan keluargaku... Matursembahnuwun Gusti Allah... Semoga Engkau slalu memasukkan kami ke dalam hamba2-Mu yang bersyukur. Amien
Menghitung hari...
Selasa, 6 Juli 2010.... waktu mengalir terus dengan cepatnya... tak terasa.... masa2 deadline menghadapi ujian sudah di depan mata... rasanya 24 jam sehari waktunya terasa kurang .. ehm.. ato aku yang tidak maksimal memanage waktu dengan baik?
Juli.... bulan penuh deadline.. (draft proposal tuk ketemu Profesor, Ujian toefl, TPA ) menumupuk di bulan ini... tapi, di sisi lain, Juli juga penuh agenda : pendampingan mahasiswa yang KKN semester pendek, kepanitiaan pemilihan dekan di Fakultas ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga.. Semoga semua bisa terrealisir dengan baik... Mudahkanlah semua urusanku ya Robb.. Amien..
Juli.... bulan penuh deadline.. (draft proposal tuk ketemu Profesor, Ujian toefl, TPA ) menumupuk di bulan ini... tapi, di sisi lain, Juli juga penuh agenda : pendampingan mahasiswa yang KKN semester pendek, kepanitiaan pemilihan dekan di Fakultas ilmu Sosial dan Humaniora UIN Sunan Kalijaga.. Semoga semua bisa terrealisir dengan baik... Mudahkanlah semua urusanku ya Robb.. Amien..
Jumat, 18 Juni 2010
dead line
Alhamdulillah... saat ini aku sudah masuk semester kedua dari proses sekolah S3ku.... tanggal 2 Maret 2010 kemarin,aku dan kawan2 sudah menempuh kompre. Dan alhamdulilah sekali kami berenam dinyatakan lulus kompre... Thanks a lot Allah. Dengan semester dua yang sudah mau berakhir ini , banyak dead line yang menunggu untuksegera dikerjakan. Target bulan juli 2010 ini : toefl dan TPA harus lolos alias sesuai standar UGM. Kedua, adalah menyerahkan abstraksi ke prodi agar segera memperoleh Profesor untuk bimbingan Proposal disertasi. Yup, semua harus aku tempuh dalam waktu satu bulan ini... Ini merupakan pekerjaan berat, tapi kuyakin Allah akan selalu menolongku... Bismillah saja.. semoga aku bisa menyelesaikan studiku yang jatahnya tinggal 4 semester alias 2 tahun lagi.... " Optimis, jangan pernah menyerah sulis !!! Kamu pasti bisa melalui ini semua !!!" Amien...
Koe lanang po wedhok?
Saturday, May 22, 2010 at 1:16pm
Uploaded via Facebook Mobile
Aha, tyo dan kawan2nya lagi suka banget mengidentifikasi dirinya. "aku khan cowok, koe cewek. Lha koe ki lanang po wedhok?", kata tyo pada anggita,teman bermainnya siang ini. "nek cowok ki sama cowok. Cewek sama cewek. Jadi aku sama alfan." imbuh tyo lagi.. sewaktu bermain sama anggita dan alfan di Joglo rumah. Ehmm masa tahapan mengenal identitas diri pd masa anak2. Baiklah nak, ibuk bpk akan membantu identifikasi dirimu tanpa bias gender.:-)
Uploaded via Facebook Mobile
Aha, tyo dan kawan2nya lagi suka banget mengidentifikasi dirinya. "aku khan cowok, koe cewek. Lha koe ki lanang po wedhok?", kata tyo pada anggita,teman bermainnya siang ini. "nek cowok ki sama cowok. Cewek sama cewek. Jadi aku sama alfan." imbuh tyo lagi.. sewaktu bermain sama anggita dan alfan di Joglo rumah. Ehmm masa tahapan mengenal identitas diri pd masa anak2. Baiklah nak, ibuk bpk akan membantu identifikasi dirimu tanpa bias gender.:-)
Kamis, 17 Juni 2010
Cinta dan doa seorang ibu...
catatan ini aku dapet dari seorang sahabat dan saudaraku (Yudi ) via SMS yang aku terima tadi pagi, Rabu, 17 Maret 2010 jam 06.12. SMS ini sungguh menyentuh dan memberikan spirit yang luar biasa untuk memuliakan seorang ibu... Btw, thanks banget ya bro... Baru kali ini, aku bisa dokumentasikan kembali... Dan aku share buat temen2 semoga bisa memberikan manfaat buat yang lain.
" Pandangan rabun memudar, sudut mata yang slalu berkaca, tidak mampu menyembunyikan pancaran niatan suci dari pengabdian tiada usai. raga merapuh, terbungkus kulit keriput selayak lontar usang, samar tertulis ribuan kisah. Muara kasih,mematri pada gemetar jari-jari, jelas terbaca cinta abadi dari batin yang slalu kuat bertahan buatmu IBU...
Mungkin aku bohong bila dianggap anak berbakti, ibukupun sama hebatnya seperti ibu-ibu yang lain yang sangat kuingat, sepotong lafal doa ditulis rapi oleh ibuku, diselipkan di saku saat awal aku merantau dulu.
"Ya Allah, bila hari ini aku hina maka mulyakanlah aku. Bila aku rendah, maka tinggikanlah aku, bila aku rapuh maka kuatkanlah aku dst..."
Dulu tak ada yang bisa membuatkan segera terjaga selain air wudhu yang dipercikan ibu di pipiku di tiap shubuh tiba. Pagi tadi pagi aku henyak terjaga karena seperti merasakannya kembali teryata hanyalah mimpi.
" Pandangan rabun memudar, sudut mata yang slalu berkaca, tidak mampu menyembunyikan pancaran niatan suci dari pengabdian tiada usai. raga merapuh, terbungkus kulit keriput selayak lontar usang, samar tertulis ribuan kisah. Muara kasih,mematri pada gemetar jari-jari, jelas terbaca cinta abadi dari batin yang slalu kuat bertahan buatmu IBU...
Mungkin aku bohong bila dianggap anak berbakti, ibukupun sama hebatnya seperti ibu-ibu yang lain yang sangat kuingat, sepotong lafal doa ditulis rapi oleh ibuku, diselipkan di saku saat awal aku merantau dulu.
"Ya Allah, bila hari ini aku hina maka mulyakanlah aku. Bila aku rendah, maka tinggikanlah aku, bila aku rapuh maka kuatkanlah aku dst..."
Dulu tak ada yang bisa membuatkan segera terjaga selain air wudhu yang dipercikan ibu di pipiku di tiap shubuh tiba. Pagi tadi pagi aku henyak terjaga karena seperti merasakannya kembali teryata hanyalah mimpi.
Konslet
Tuesday, May 11, 2010 at 6:22pm
Uploaded via Facebook Mobile
Sori ini aq pulang dengan terpaksa menahan malu. Kabel Klakson smash merahku konslet. Akibatnya klaksonnya bunyi terus sepanjang perjalanan dari UIN SUKA sampe Rumah. Ah, sepanjang jalan marsda adisucipto, sapen, timoho, gedong kuning sampe jalan wonosari km 11. Oh!! Mata para pengguna jalan raya pada melihatku. Ada yg ngomel2 dg sinis. Ada yg cuman plerak plerok. Uhh!
Uploaded via Facebook Mobile
Sori ini aq pulang dengan terpaksa menahan malu. Kabel Klakson smash merahku konslet. Akibatnya klaksonnya bunyi terus sepanjang perjalanan dari UIN SUKA sampe Rumah. Ah, sepanjang jalan marsda adisucipto, sapen, timoho, gedong kuning sampe jalan wonosari km 11. Oh!! Mata para pengguna jalan raya pada melihatku. Ada yg ngomel2 dg sinis. Ada yg cuman plerak plerok. Uhh!
Gatot Koco
Thursday, May 20, 2010 at 10:46pm
Uploaded via Facebook Mobile
Siang itu,aku terheran2 dg perkataan tyo. "aku mau jadi gatot koco". Ha? Kenapa tyo? "ya gak apa2",kata tyo. (Selama ini kami blm pernah cerita dunia wayang pd tyo. Dapet dari mana ya? Koq tyo tau gatot koco:-))Ehm, masih inget jelas bagaimana tyo selama 4 bulan ini pengen jadi Power Rangers.. Sebelumnya pas usia 3 thn, tyo pengen jadi tentara. Dan sebelumnya lagi,pas usia 2 thn, tyo pengen jadi presiden:-). AHa! Sangat dinamis banget Le, keinginanmu:-)..
Uploaded via Facebook Mobile
Siang itu,aku terheran2 dg perkataan tyo. "aku mau jadi gatot koco". Ha? Kenapa tyo? "ya gak apa2",kata tyo. (Selama ini kami blm pernah cerita dunia wayang pd tyo. Dapet dari mana ya? Koq tyo tau gatot koco:-))Ehm, masih inget jelas bagaimana tyo selama 4 bulan ini pengen jadi Power Rangers.. Sebelumnya pas usia 3 thn, tyo pengen jadi tentara. Dan sebelumnya lagi,pas usia 2 thn, tyo pengen jadi presiden:-). AHa! Sangat dinamis banget Le, keinginanmu:-)..
Beras 2 kg
Sunday, May 23, 2010 at 6:50pm
Uploaded via Facebook Mobile
Kemarin pagi ada yg mengejutkan sanubariku. Ada tetanggaku yg mau pinjem beras 2 kg ke saudaraku. "lik, aku pinjam beras 2 kg ya",katanya. "wah,aku dhewe yo pusing mau nyari uang buat anakku yg mau masuk smp",ujar saudaraku. Ya Allah, di sekitarku masih ada yg kesulitan buat makan.. Mendengar kejadian itu aku miris banget. Aku datangi tetanggaku itu.. "Mbak,tolong nanti ke rumah ya",kataku. "Iya mbak sulis",jawabnya. Alhamdulillah,kemarin bisa berbagi dgn orang lain..
Uploaded via Facebook Mobile
Kemarin pagi ada yg mengejutkan sanubariku. Ada tetanggaku yg mau pinjem beras 2 kg ke saudaraku. "lik, aku pinjam beras 2 kg ya",katanya. "wah,aku dhewe yo pusing mau nyari uang buat anakku yg mau masuk smp",ujar saudaraku. Ya Allah, di sekitarku masih ada yg kesulitan buat makan.. Mendengar kejadian itu aku miris banget. Aku datangi tetanggaku itu.. "Mbak,tolong nanti ke rumah ya",kataku. "Iya mbak sulis",jawabnya. Alhamdulillah,kemarin bisa berbagi dgn orang lain..
Selamat jalan bapak guru
Friday, June 4, 2010 at 6:19pm
Uploaded via Facebook Mobile
Innalillahi wainnailahi roo jiun. siang tadi aq dapet info dari temenku via facebook. Bahwa, salah satu guru kami di SMA 5 dulu, Bpk Drs.H.M. Bachrum,MM meninggal dunia. selamat jalan bapak guru... Semoga Allah memberi tempat yg terbaik buat beliau. Amin. Ah,masih jelas sekali kenangan 18 tahun yg lalu. Beliau adalah guru yg sangat kritis+kontekstual banget dlm menjelaskan mata pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Beliau slalu membangkitkan motivasi belajar di kelasku. Guru yg hebat+super:-)..
Uploaded via Facebook Mobile
Innalillahi wainnailahi roo jiun. siang tadi aq dapet info dari temenku via facebook. Bahwa, salah satu guru kami di SMA 5 dulu, Bpk Drs.H.M. Bachrum,MM meninggal dunia. selamat jalan bapak guru... Semoga Allah memberi tempat yg terbaik buat beliau. Amin. Ah,masih jelas sekali kenangan 18 tahun yg lalu. Beliau adalah guru yg sangat kritis+kontekstual banget dlm menjelaskan mata pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila). Beliau slalu membangkitkan motivasi belajar di kelasku. Guru yg hebat+super:-)..
Jangan lama-lama
Friday, June 4, 2010 at 6:32pm
Uploaded via Facebook Mobile
Tyo,sejak usia 2 tahun sudah selalu protes padaku. Tyo selalu bilang padaku atau suamiku begini:" ibuk, bapak.yg kerja salah satu saja. Ibuk di rumah saja nemeni tyo". Ehm,kamipun memberi pengertian pada tyo. Ketika tyo umur 3 tahun dan kini 3 tahun 8 bulan, protesnya begini: "ibuk, kerjanya mbok libur aja biar aku seneng. Ibuk kalo kerja jangan lama-lama ya. Pulangnya jangan sore atau malem". Duh,anakku sayang. Maafkan ibuk ya Le, ibuk meminjam waktumu. Kelak engkau akan mengerti tyoku sayang :-)
Uploaded via Facebook Mobile
Tyo,sejak usia 2 tahun sudah selalu protes padaku. Tyo selalu bilang padaku atau suamiku begini:" ibuk, bapak.yg kerja salah satu saja. Ibuk di rumah saja nemeni tyo". Ehm,kamipun memberi pengertian pada tyo. Ketika tyo umur 3 tahun dan kini 3 tahun 8 bulan, protesnya begini: "ibuk, kerjanya mbok libur aja biar aku seneng. Ibuk kalo kerja jangan lama-lama ya. Pulangnya jangan sore atau malem". Duh,anakku sayang. Maafkan ibuk ya Le, ibuk meminjam waktumu. Kelak engkau akan mengerti tyoku sayang :-)
Gak ada orangnya
Friday, June 4, 2010 at 6:43pm
Uploaded via Facebook Mobile
Tradisi di kampungku kalo ada orang meninggal dunia disiarkan lewat pengeras (loud speaker) masjid. Dan tyo selalu bertanya. "buk, itu ada apa? Kenapa orang itu meninggal?". Akupun mencoba memberi pemahaman pada tyo. Kemarin tyo mengejutkanku dg perkataannya:" buk, kalo simbah meninggal. Aku menangis lho. Terus, kalo ibuk, bapak dan tyo meninggal, di rumah ini gak ada orangnya". Ehm, mendengar itu aku hanya termenung. Ya Allah, lindungilah diriku,suamiku,anakku, ibuk+bapakku. amin..
Uploaded via Facebook Mobile
Tradisi di kampungku kalo ada orang meninggal dunia disiarkan lewat pengeras (loud speaker) masjid. Dan tyo selalu bertanya. "buk, itu ada apa? Kenapa orang itu meninggal?". Akupun mencoba memberi pemahaman pada tyo. Kemarin tyo mengejutkanku dg perkataannya:" buk, kalo simbah meninggal. Aku menangis lho. Terus, kalo ibuk, bapak dan tyo meninggal, di rumah ini gak ada orangnya". Ehm, mendengar itu aku hanya termenung. Ya Allah, lindungilah diriku,suamiku,anakku, ibuk+bapakku. amin..
Aku khan anak mahal
Friday, June 4, 2010 at 7:05pm
Uploaded via Facebook Mobile
Aha! Jadi terheran2 mendengar tyo berujar kepada bapaknya:" aku khan anak mahal koq dijilati". Ya,malem ini tyo dan bapaknya lagi main2 sampe uyel2an. Tyo berujar seperti itu karena aku dulu pernah bilang ke tyo: "tyo, kamu itu anak mahal lho karena Dulu waktu lahir lewat operasi caesar. Minum susunya dari Wyeth bukan ASI.." Ho ho ho ternyata tyo merekam ceritaku yg kusampaikan ke tyo waktu tyo umur 2 tahun:-).. Subhanallah. Terima kasih Allah atas segala karunia terindah ini
Uploaded via Facebook Mobile
Aha! Jadi terheran2 mendengar tyo berujar kepada bapaknya:" aku khan anak mahal koq dijilati". Ya,malem ini tyo dan bapaknya lagi main2 sampe uyel2an. Tyo berujar seperti itu karena aku dulu pernah bilang ke tyo: "tyo, kamu itu anak mahal lho karena Dulu waktu lahir lewat operasi caesar. Minum susunya dari Wyeth bukan ASI.." Ho ho ho ternyata tyo merekam ceritaku yg kusampaikan ke tyo waktu tyo umur 2 tahun:-).. Subhanallah. Terima kasih Allah atas segala karunia terindah ini
Malming
Saturday, June 5, 2010 at 10:55pm
Uploaded via Facebook Mobile
Biasanya kalo malming, ada ritual keluar bareng bapake tyo and tyo. Entah itu sekedar makan malem di luar, jalan2 liat suasana kota jogja. Tapi malming kali ini bapake tyo ke paker dan nginep. Pulang besok. Yah, sudahlah malming kali ini bersama jagoanku,tyo nonton power rangers. Ehm, setelah tyo bobok, giliranku malming bersama SLANk (nonton Konser SLAnK di Trans 7 . Ehm,keuren abis:-). Ah,jadi inget waktu nonton konser SLANk di Mandala Krida bareng ponakanku, anisa risti:-)). SLANK is never Die, yeahh!
Uploaded via Facebook Mobile
Biasanya kalo malming, ada ritual keluar bareng bapake tyo and tyo. Entah itu sekedar makan malem di luar, jalan2 liat suasana kota jogja. Tapi malming kali ini bapake tyo ke paker dan nginep. Pulang besok. Yah, sudahlah malming kali ini bersama jagoanku,tyo nonton power rangers. Ehm, setelah tyo bobok, giliranku malming bersama SLANk (nonton Konser SLAnK di Trans 7 . Ehm,keuren abis:-). Ah,jadi inget waktu nonton konser SLANk di Mandala Krida bareng ponakanku, anisa risti:-)). SLANK is never Die, yeahh!
Selamat jalan mbak Janti
Monday, June 7, 2010 at 7:44pm
Uploaded via Facebook Mobil
Innalillahi wainna ilaihi ro jiun. Malem ini aku dapet kabar duka tentang meninggalnya mbak janti via Facebook (mbak wasingatu zakiyah+mbak dati fatimah). Ah,masih segar kenangan bersama mbak Janti waktu aku riset industrialisasi pedesaan di Klaten tahun 2005. (Kerjasama antara IRE dan Persepsi Klaten). Begitu welcomenya engkau menerima kedatanganku waktu itu. Selamat jalan mbak Janti.. semoga Allah memberi tempat yg terbaik buatmu mbak Janti. amien2 ya robbal'alamin.
Uploaded via Facebook Mobil
Innalillahi wainna ilaihi ro jiun. Malem ini aku dapet kabar duka tentang meninggalnya mbak janti via Facebook (mbak wasingatu zakiyah+mbak dati fatimah). Ah,masih segar kenangan bersama mbak Janti waktu aku riset industrialisasi pedesaan di Klaten tahun 2005. (Kerjasama antara IRE dan Persepsi Klaten). Begitu welcomenya engkau menerima kedatanganku waktu itu. Selamat jalan mbak Janti.. semoga Allah memberi tempat yg terbaik buatmu mbak Janti. amien2 ya robbal'alamin.
Tatapan penuh cinta
Dear all... ini ada email dari seorang kawan. Semoga bermanfaat...
salam,
Sulis
TATAPAN PENUH CINTA
From: "al Fakir"
Date: Thu, 18 Mar 2004 14:57:17 +070
Pernahkah anda menatap orang-orang terdekat anda saat ia sedang tidur?
Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur. Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari
seseorang. Seorang artis yang ketika di panggung
begitu cantik dan gemerlap pun bisa jadi akan
tampak polos dan jauh berbeda jika ia sedang tidur.
Orang paling kejam di dunia pun jika ia sudah tidur tak akan tampak wajah bengisnya.
Perhatikanlah ayah anda saat beliau sedang tidur.
Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa
kerut merut mulai terpahat di wajahnya. Orang inilah yang tiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya. Orang inilah rela
melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar.Sekarang, beralihlah. Lihatlah ibu anda.Hmm...kulitnya mulai keriput
dan tangan yang dulu halus membelai-belai tubuh bayi kita itu kini kasar karena tempaan hidup yang keras. Orang inilah yang tiap hari mengurus
kebutuhan kita. Orang inilah yang paling rajin
mengingatkan dan mengomeli kita semata-mata karena rasa kasih dan sayang, dan sayangnya, itu sering kita salah artikan.
Cobalah menatap wajah orang-orang tercinta itu : Ayah,Ibu, Suami,Istri,Kakak, Adik, Anak, Sahabat, Semuanya. Rasakanlah sensasi yang timbul
sesudahnya. Rasakanlah energi cinta yang mengalir
pelan-pelan saat menatap wajah lugu yang terlelap itu. Rasakanlah getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah dilakukan orang-orang itu untuk kebahagiaan anda.Pengorbanan yang kadang tertutupi oleh kesalah pahaman kecil yang entah kenapa selau saja nampak besar.
Secara ajaib Allah mengatur agar pengorbanan itu bisa tampak lagi melalui wajah-wajah jujur mereka saat sedang tidur. Pengorbanan yang kadang melelahkan namun enggan mereka ungkapkan. Dan
ekspresi wajah ketika tidur pun mengungkap segalanya.Tanpa kata, tanpa suara dia berkata: "betapa lelahnya aku hari ini". Dan penyebab lelah
itu? Untuk siapa dia berlelah-lelah? Tak lain adalah kita.Orang tua yang merawat kita, Suami yang bekerja keras mencari nafkah, istri yang bekerja
keras mengurus dan mendidik anak, juga rumah. Kakak,adik, anak, dan sahabat yang telah melewatkan hari-hari suka dan duka bersama kita.
Resapilah kenangan-kenangan manis dan pahit yang
pernah terjadi dengan menatap wajah-wajah mereka. Rasakanlah betapa kebahagiaan dan keharuan
seketika membuncah jika mengingat itu semua.
Bayangkanlah apa yang akan terjadi jika esok hari mereka "orang-orang terkasih itu" tak lagi
membuka matanya, selamanya..................
salam,
Sulis
TATAPAN PENUH CINTA
From: "al Fakir"
Date: Thu, 18 Mar 2004 14:57:17 +070
Pernahkah anda menatap orang-orang terdekat anda saat ia sedang tidur?
Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur. Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari
seseorang. Seorang artis yang ketika di panggung
begitu cantik dan gemerlap pun bisa jadi akan
tampak polos dan jauh berbeda jika ia sedang tidur.
Orang paling kejam di dunia pun jika ia sudah tidur tak akan tampak wajah bengisnya.
Perhatikanlah ayah anda saat beliau sedang tidur.
Sadarilah, betapa badan yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa
kerut merut mulai terpahat di wajahnya. Orang inilah yang tiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya. Orang inilah rela
melakukan apa saja asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar.Sekarang, beralihlah. Lihatlah ibu anda.Hmm...kulitnya mulai keriput
dan tangan yang dulu halus membelai-belai tubuh bayi kita itu kini kasar karena tempaan hidup yang keras. Orang inilah yang tiap hari mengurus
kebutuhan kita. Orang inilah yang paling rajin
mengingatkan dan mengomeli kita semata-mata karena rasa kasih dan sayang, dan sayangnya, itu sering kita salah artikan.
Cobalah menatap wajah orang-orang tercinta itu : Ayah,Ibu, Suami,Istri,Kakak, Adik, Anak, Sahabat, Semuanya. Rasakanlah sensasi yang timbul
sesudahnya. Rasakanlah energi cinta yang mengalir
pelan-pelan saat menatap wajah lugu yang terlelap itu. Rasakanlah getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa banyaknya pengorbanan yang telah dilakukan orang-orang itu untuk kebahagiaan anda.Pengorbanan yang kadang tertutupi oleh kesalah pahaman kecil yang entah kenapa selau saja nampak besar.
Secara ajaib Allah mengatur agar pengorbanan itu bisa tampak lagi melalui wajah-wajah jujur mereka saat sedang tidur. Pengorbanan yang kadang melelahkan namun enggan mereka ungkapkan. Dan
ekspresi wajah ketika tidur pun mengungkap segalanya.Tanpa kata, tanpa suara dia berkata: "betapa lelahnya aku hari ini". Dan penyebab lelah
itu? Untuk siapa dia berlelah-lelah? Tak lain adalah kita.Orang tua yang merawat kita, Suami yang bekerja keras mencari nafkah, istri yang bekerja
keras mengurus dan mendidik anak, juga rumah. Kakak,adik, anak, dan sahabat yang telah melewatkan hari-hari suka dan duka bersama kita.
Resapilah kenangan-kenangan manis dan pahit yang
pernah terjadi dengan menatap wajah-wajah mereka. Rasakanlah betapa kebahagiaan dan keharuan
seketika membuncah jika mengingat itu semua.
Bayangkanlah apa yang akan terjadi jika esok hari mereka "orang-orang terkasih itu" tak lagi
membuka matanya, selamanya..................
Nothing Else Matters
It is just remember the sweet memory in my SMA 5 Yogyakarta. My favourite band ( Yopi Irawan, Antok Maryanto, Juneswara ) sang this song in Purna Budaya UGM, in 1994.... Thanks bro, U have introduced me about the heavy metal song... This song from METALLICA is never die..
Nothing Else Matters
So close no matter how far
Couldn't be much more from the heart
Forever trusting who we are
And nothing else matters
Never opened myself this way
Life is ours, we live it our way
All these words I don't just say
And nothing else matters
Trust I seek and I find in you
Every day for us something new
Open mind for a different view
And nothing else matters
Never cared for what they do
Never cared for what they know
But I know
So close no matter how far
Couldn't be much more from the heart
Forever trusting who we are
And nothing else matters
Never cared for what they do
Never cared for what they know
But I know
Never opened myself this way
Life is ours, we live it our way
All these words I don't just say
Trust I seek and I find in you
Every day for us something new
Open mind for a different view
And nothing else matters
Never cared for what they say
Never cared for games they play
Never cared for what they do
Never cared for what they know
And I know
So close no matter how far
Couldn't be much more from the heart
Forever trusting who we are
No nothing else matters
Nothing Else Matters
So close no matter how far
Couldn't be much more from the heart
Forever trusting who we are
And nothing else matters
Never opened myself this way
Life is ours, we live it our way
All these words I don't just say
And nothing else matters
Trust I seek and I find in you
Every day for us something new
Open mind for a different view
And nothing else matters
Never cared for what they do
Never cared for what they know
But I know
So close no matter how far
Couldn't be much more from the heart
Forever trusting who we are
And nothing else matters
Never cared for what they do
Never cared for what they know
But I know
Never opened myself this way
Life is ours, we live it our way
All these words I don't just say
Trust I seek and I find in you
Every day for us something new
Open mind for a different view
And nothing else matters
Never cared for what they say
Never cared for games they play
Never cared for what they do
Never cared for what they know
And I know
So close no matter how far
Couldn't be much more from the heart
Forever trusting who we are
No nothing else matters
Sepenggal Do'a Hari Ini
Prends......perjalanan hidup pasti melelahkan... selaku hamba-Nya yang dhoif... kita hanya mampu njalanin semua ini seperti apa yang telah digariskan oleh-Nya...(iya khan..?) . Semoga kita semua bisa persembahkan yang terbaik buat kehidupan kita, prends..!! Ok, gitu dulu... mari berlomba2 dalam kebaikan... Hope the best in our life...!!! And satu hal lagi...Smoga kita senantiasa dapat meluruskan niat kita... YAP, EVERYTHING JUST FOR ALLAH...!!! Sepenggal doa hari ini,merupakan kiriman dari seorang kawan... semoga bermanfaat
Salam hangat dan Salam persahabatan selalu,
SULISWAEDABLOVEJOGJAFOEREVERPOKOKE
Sepenggal Do'a Hari Ini
Wahai Allah
Hanya engkaulah yang maha tau
kapan hidup kami berakhir….
Kami mohon kepada-Mu
Jadikan kening ini menjadi kening yang selalu rindu
bersujud ya Allah
Jadikan kenikmatan sholat menjadi karunia besar yang
kami rindukan
Jadikan kami ini menjadi ahli tahajud ya Allah
Jamu setiap malam ya allah
Jadikan sepertiga malam adalah saat yang paling indah
Kami bersimpuh kepada-Mu
Kuatkan kami menjadi ahli shaum ya Allah
Akrabkan ayat-ayat Alquran dengan mata kami ya Allah
Jadikan alquran menjadi cahaya dan kerinduan
Rob…
Karuniakan kepada kami lisan yang selalu bersih
Yang selalu menyebut namamu
Yang menjadi cahaya ilmu
Rob…..
Karuniakan kepada kami hati
Yang tidak pernah merasakan kesepian
Karena merasakan kehadiranmu ya Allah
Jadikan hati ini hati yang selalu tenang karena yakin
akan pertolonganmu
Hati yang aman karena yakin akan perlindungan-Mu
Karuniakan kepada kami hati yang penuh cinta ya Allah
Cinta kepada-Mu ya Allah
Dan golongkan hati ini hati yang selalu rindu
Rindu ingin berjumpa dengan-Mu
Ya Allah
Jadikan pertemuan ini menjadi semakin lurus sisa hidup
kami
Kami mohon kepada-Mu wahai Allah
Berikan kesempatan kami untuk memberikan yang terbaik
dalam hidup kami
Berikan kesempatan bagi kami untuk memperbaiki
segalanya
Berikan keteguhan bagi kami menghadapi godaan-godaan
ya Allah
Berikan kesabaran ketika menghadapi ujian
Berikan kesungguhan bagi kami untuk bisa mengendalikan
nafsu kami ya Allah
syahwat amarah kami
Dan berikan kepada kami kesunguhan untuk istiqomah ya
arrahman rahimin
Salam hangat dan Salam persahabatan selalu,
SULISWAEDABLOVEJOGJAFOEREVERPOKOKE
Sepenggal Do'a Hari Ini
Wahai Allah
Hanya engkaulah yang maha tau
kapan hidup kami berakhir….
Kami mohon kepada-Mu
Jadikan kening ini menjadi kening yang selalu rindu
bersujud ya Allah
Jadikan kenikmatan sholat menjadi karunia besar yang
kami rindukan
Jadikan kami ini menjadi ahli tahajud ya Allah
Jamu setiap malam ya allah
Jadikan sepertiga malam adalah saat yang paling indah
Kami bersimpuh kepada-Mu
Kuatkan kami menjadi ahli shaum ya Allah
Akrabkan ayat-ayat Alquran dengan mata kami ya Allah
Jadikan alquran menjadi cahaya dan kerinduan
Rob…
Karuniakan kepada kami lisan yang selalu bersih
Yang selalu menyebut namamu
Yang menjadi cahaya ilmu
Rob…..
Karuniakan kepada kami hati
Yang tidak pernah merasakan kesepian
Karena merasakan kehadiranmu ya Allah
Jadikan hati ini hati yang selalu tenang karena yakin
akan pertolonganmu
Hati yang aman karena yakin akan perlindungan-Mu
Karuniakan kepada kami hati yang penuh cinta ya Allah
Cinta kepada-Mu ya Allah
Dan golongkan hati ini hati yang selalu rindu
Rindu ingin berjumpa dengan-Mu
Ya Allah
Jadikan pertemuan ini menjadi semakin lurus sisa hidup
kami
Kami mohon kepada-Mu wahai Allah
Berikan kesempatan kami untuk memberikan yang terbaik
dalam hidup kami
Berikan kesempatan bagi kami untuk memperbaiki
segalanya
Berikan keteguhan bagi kami menghadapi godaan-godaan
ya Allah
Berikan kesabaran ketika menghadapi ujian
Berikan kesungguhan bagi kami untuk bisa mengendalikan
nafsu kami ya Allah
syahwat amarah kami
Dan berikan kepada kami kesunguhan untuk istiqomah ya
arrahman rahimin
SILABI SOSIOLOGI PEMBANGUNAN
Kode / Nama Mata Kuliah : SOS-311-1-3 / Sosiologi Pembangunan
Satuan Kredit Semester : 3 SKS
Jml Jam kuliah dalam seminggu : 150 menit
Penyusun : Sulistyaningsih,S.Sos,M.Si
Ranah integrasi-interkoneksi
• -Filosofis : Keberadaan mata kuliah ini terkait dengan dengan disiplin ilmu lain seperti Ekonomi, politik , anropologi
• -Materi : Interkoneksi mata kuliah ini tercermin bahwa islam sebagai ”value”
• -Strategi : Dalam proses pembelajaran mata kuliah ini menggunakan sumber referensi yang beragam, di samping itu dalam strategi pembelajaran menggunakan model active learning.
• - Matakuliah pendukung Integrasi-Interkoneksi : Al Qur’an, Al hadist, Teori Pembangunan, Sistem Sosial Indonesia , Teori Perubahan Sosial, Gerakan Sosial, Sosiologi Gender,
Deskripsi Mata kuliah
• Mata kuliah ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa dan mahasiswi tentang arah pembangunan dunia dan lokal. Selain itu juga bertujuan agar mahasiswa dan mahasiswi mampu menerapkan kerangka teoritik dalam membedah dinamika sosial tingkat lokal maupun nasional dan mampu mengenali faktor dominan sebagai lokomotif perubahan masyarakat dalam kasus-kasus tertentu
Standar Kompetensi
• Mahasiswa dan mahasiswi mampu memahami arah pembangunan dunia dan lokal,
• Mahasiswa dan mahasiswi mampu menerapkan kerangka teoritik dalam membedah dinamika sosial tingkat lokal maupun nasional
• Mahasiswa dan mahasiswi mampu mengenali faktor dominan sebagai lokomotif perubahan masyarakat dalam kasus-kasus tertentu.
Level Taksonomi
• Pengetahuan : 15 %
• Pemahaman : 20
• Penerapan : 20 %
• Analisis : 20 %
• Sintesis :10 %
• Evaluasi : 15 %
MATERI POKOK
1. Kontrak belajar, Penyampaian silabi serta diskusi tentang pengertian, tujuan dan manfaat sosiologi pembangunan
2. Teori modernisasi dan Pembangunan
3. Teori ketergantungan dan Pembangunan
4. Teori ketergantungan dan Pembangunan
5. Industrialisasi dan Pembangunan
6. Telaah Kritis terhadap Dinamika Pembangunan di Indonesia : Pra Kolonial dan kolonial
7. Telaah Kritis terhadap Dinamika Pembangunan di Indonesia : Pasca kemerdekaan
8. Telaah Kritis terhadap Dinamika Pembangunan di Indonesia: Orde baru
9. Telaah Kritis terhadap Dinamika Pembangunan di Indonesia: Era Reformasi s/d sekarang
10. Reorientasi Paradigma, Arah dan Tujuan Pembangunan
11. Birokrasi dan Pembangunan Nasional (Field Studi )
12. Perburuhan di Indonesia (Field Studi)
13. NGO di Indonesia
14. Gender dalam pembangunan di Indonesia
Komposisi Penilaian
Aspek Penilaian :
Ujian Akhir Semester : 35 %
Ujian Tengah Semester : 25 %
Tugas Mandiri : 30 %
Keaktifan mahasiswa : 10 %
Total : 100 %
TUGAS MANDIRI
• Buat paper yang terkait dengan kajian Sosiologi Pembangunan (tema : bebas: bisa tentang NGO, Industrialisasi, buruh, kemiskinan dan sebagainya)
• Tugas dibuat ketik dalam huruf times new romans 12, spasi 1,5
• Tugas dikumpul paling lambat 2 minggu setelah mid atau UTS (bisa via email atau hard copy )
• Untuk tugas dilarang keras melakukan plagiasi
• Kisi-kisi paper : pendahuluan, pembahasan, catatan kritis, referensi
• Laporan kuliah lapang
Daftar Referensi
Referensi Wajib
: 1- Arief Budiman, 1995, Teori Pembangunan Dunia Ketiga, Jakarta, Gramedia
2- M. Francis Abraham, 1991, Modernisasi di Dunia Ketiga: Suatu Teori Umum Pembangunan, Yogyakarta, Tiara Wacana
3-Mansour Fakih, 2002, Runtuhnya teori Pembangunan dan Globalisasi,
4-Moeljarto Tjokrowinoto,1996,Pembangunan, Dilema dan Tantangan, Yogyakarta, Pustaka Pelajar
Referensi i Anjuran :
1- IL Pasaribu, B Simanjuntak, 1982, Sosiologi Pembangunan, Bandung, Tarsito
2. Soerjono Soekanto, Teori Sosiologi: Tentang Priba-di dalam Masyarakat
3. Philip Quarles van Ufford, Frans Husken, Dirk Krujt (editor), 1989, Tendensi dan Tradisi dalam Sosiologi Pembangunan, Jakarta, Gramedia
4. Soedjatmoko, 1983, Dimensi Manusia Dalam Pembangunan, Jakarta, LP3ES (khusus bab Kesadaran Sejarah dan Pembangunan )
5.Agus Salim, Perubahan Sosial: Sketsa Teori dan Refleksi Metodologi Kasus Indonesia
6.Tom Hewwit, Hazel Johnson, Dave Wield,(ed), 1992, Industrialization and Development. The Open University
CONTACT ME
• Email : sulis_tya@lycos.com (U can invite me in friendster)
• bepatient76@yahoo.com ( U can add me in facebook and In Yahoo Messenger)
Satuan Kredit Semester : 3 SKS
Jml Jam kuliah dalam seminggu : 150 menit
Penyusun : Sulistyaningsih,S.Sos,M.Si
Ranah integrasi-interkoneksi
• -Filosofis : Keberadaan mata kuliah ini terkait dengan dengan disiplin ilmu lain seperti Ekonomi, politik , anropologi
• -Materi : Interkoneksi mata kuliah ini tercermin bahwa islam sebagai ”value”
• -Strategi : Dalam proses pembelajaran mata kuliah ini menggunakan sumber referensi yang beragam, di samping itu dalam strategi pembelajaran menggunakan model active learning.
• - Matakuliah pendukung Integrasi-Interkoneksi : Al Qur’an, Al hadist, Teori Pembangunan, Sistem Sosial Indonesia , Teori Perubahan Sosial, Gerakan Sosial, Sosiologi Gender,
Deskripsi Mata kuliah
• Mata kuliah ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa dan mahasiswi tentang arah pembangunan dunia dan lokal. Selain itu juga bertujuan agar mahasiswa dan mahasiswi mampu menerapkan kerangka teoritik dalam membedah dinamika sosial tingkat lokal maupun nasional dan mampu mengenali faktor dominan sebagai lokomotif perubahan masyarakat dalam kasus-kasus tertentu
Standar Kompetensi
• Mahasiswa dan mahasiswi mampu memahami arah pembangunan dunia dan lokal,
• Mahasiswa dan mahasiswi mampu menerapkan kerangka teoritik dalam membedah dinamika sosial tingkat lokal maupun nasional
• Mahasiswa dan mahasiswi mampu mengenali faktor dominan sebagai lokomotif perubahan masyarakat dalam kasus-kasus tertentu.
Level Taksonomi
• Pengetahuan : 15 %
• Pemahaman : 20
• Penerapan : 20 %
• Analisis : 20 %
• Sintesis :10 %
• Evaluasi : 15 %
MATERI POKOK
1. Kontrak belajar, Penyampaian silabi serta diskusi tentang pengertian, tujuan dan manfaat sosiologi pembangunan
2. Teori modernisasi dan Pembangunan
3. Teori ketergantungan dan Pembangunan
4. Teori ketergantungan dan Pembangunan
5. Industrialisasi dan Pembangunan
6. Telaah Kritis terhadap Dinamika Pembangunan di Indonesia : Pra Kolonial dan kolonial
7. Telaah Kritis terhadap Dinamika Pembangunan di Indonesia : Pasca kemerdekaan
8. Telaah Kritis terhadap Dinamika Pembangunan di Indonesia: Orde baru
9. Telaah Kritis terhadap Dinamika Pembangunan di Indonesia: Era Reformasi s/d sekarang
10. Reorientasi Paradigma, Arah dan Tujuan Pembangunan
11. Birokrasi dan Pembangunan Nasional (Field Studi )
12. Perburuhan di Indonesia (Field Studi)
13. NGO di Indonesia
14. Gender dalam pembangunan di Indonesia
Komposisi Penilaian
Aspek Penilaian :
Ujian Akhir Semester : 35 %
Ujian Tengah Semester : 25 %
Tugas Mandiri : 30 %
Keaktifan mahasiswa : 10 %
Total : 100 %
TUGAS MANDIRI
• Buat paper yang terkait dengan kajian Sosiologi Pembangunan (tema : bebas: bisa tentang NGO, Industrialisasi, buruh, kemiskinan dan sebagainya)
• Tugas dibuat ketik dalam huruf times new romans 12, spasi 1,5
• Tugas dikumpul paling lambat 2 minggu setelah mid atau UTS (bisa via email atau hard copy )
• Untuk tugas dilarang keras melakukan plagiasi
• Kisi-kisi paper : pendahuluan, pembahasan, catatan kritis, referensi
• Laporan kuliah lapang
Daftar Referensi
Referensi Wajib
: 1- Arief Budiman, 1995, Teori Pembangunan Dunia Ketiga, Jakarta, Gramedia
2- M. Francis Abraham, 1991, Modernisasi di Dunia Ketiga: Suatu Teori Umum Pembangunan, Yogyakarta, Tiara Wacana
3-Mansour Fakih, 2002, Runtuhnya teori Pembangunan dan Globalisasi,
4-Moeljarto Tjokrowinoto,1996,Pembangunan, Dilema dan Tantangan, Yogyakarta, Pustaka Pelajar
Referensi i Anjuran :
1- IL Pasaribu, B Simanjuntak, 1982, Sosiologi Pembangunan, Bandung, Tarsito
2. Soerjono Soekanto, Teori Sosiologi: Tentang Priba-di dalam Masyarakat
3. Philip Quarles van Ufford, Frans Husken, Dirk Krujt (editor), 1989, Tendensi dan Tradisi dalam Sosiologi Pembangunan, Jakarta, Gramedia
4. Soedjatmoko, 1983, Dimensi Manusia Dalam Pembangunan, Jakarta, LP3ES (khusus bab Kesadaran Sejarah dan Pembangunan )
5.Agus Salim, Perubahan Sosial: Sketsa Teori dan Refleksi Metodologi Kasus Indonesia
6.Tom Hewwit, Hazel Johnson, Dave Wield,(ed), 1992, Industrialization and Development. The Open University
CONTACT ME
• Email : sulis_tya@lycos.com (U can invite me in friendster)
• bepatient76@yahoo.com ( U can add me in facebook and In Yahoo Messenger)
Metatheory
Metatheory
George Ritzer
A metatheory is a broad perspective that overarches two, or more, theories. There are many metatheories – positivism, post-positivism, hermeneutics, and so on – of importance in sociology and other social sciences. Two of the best known and most important are methodological holism and methodological individualism. Methodological holism takes as its basic unit of analysis, and focuses most of its attention on, “social wholes” such as social structures, social institutions, imperatively coordinated associations, and capitalism. It overarches such large-scale, macro-level theories as structural functionalism, conflict theory, and some varieties of neo-Marxian theory. Methodological individualism takes as its unit of analysis and focal concern individual-level phenomena such as the mind, self, action, accounts, behavior, rational action, and so on. It overarches a series of micro-level theories such as symbolic interactionism, ethnomethodology, exchange theory, and rational choice theory. There is a third, methodological relationism, that concerns itself with the relationship between social wholes and social individuals and overarches a series of theories that arose mainly in the 1980s to compensate for the micro- and macro-extremism of the two extant metatheories. Methodological relationism encompasses a number of largely American micro–macro theories and more European agency–structure theories.
A particularly useful term to use in thinking about metatheories is Thomas Kuhn's famous, albeit highly ambiguous and controversial, notion of a paradigm. In fact, a paradigm is broader than a metatheory because it encompasses not only theories, but also methods, images of the subject matter of sociology, and a body of work that serves as an exemplar for those who work within the paradigm (Ritzer 1975).
The social facts paradigm derives its name and orientation from the work of Émile Durkheim and his contention that sociology should involve the study of social facts that are external to and coercive over individuals. He distinguished between two broad types of social facts – material (now most commonly called social structures) and non-material (now usually called social institutions). The two major theories subsumed under this heading are structural functionalism and conflict theory, and to a lesser extent systems theory. The social definition paradigm derives its name from W. I. Thomas's “definition of the situation” (if people define situations as real, they are real in their consequences). Symbolic interactionism is a theoretical component of the social definition paradigm, as is ethnomethodology. Finally, there is the social behavior paradigm, adopting a focus on behavior from the psychological behaviorists, especially B. F. Skinner. Exchange theory and rational choice would be included in this paradigm.
The relatively narrow macro (social facts) and micro (social definition and social behavior) foci of extant paradigms led to the delineation of a more integrated sociological paradigm. Marx and his dialectical approach, especially to the relationship between the capitalists and proletariat on one side and the structures of capitalism on the other, are taken as the exemplar of this approach and this paradigm can be seen as encompassing the micro–macro and agency–structure theories mentioned above.
Metatheorizing can be seen as a specific form of metasociology that examines sociological theory. While sociological theorizing attempts to make sense of the social world, metatheorizing attempts to make sense of sociological theorizing. As with other forms of metastudy, reflexivity is a crucial component of sociological metatheorizing. All metatheorizing involves a high level of reflexivity, although the highest level of reflexivity is found among metatheorists.
Metasociology encompasses not only metatheorizing, but also meta-methods and meta-data-analysis. Meta-methods involves the reflexive study of the discipline's various methods, while meta-data-analysis takes as its subject a range of studies of a given phenomenon and seeks to gain an overall sense of them and to aggregate the data in order to come to a more general conclusion about a particular issue.
A wide variety of work can be included under the heading of sociological metatheorizing. What distinguishes this work is not so much the process of metatheorizing (it may vary greatly in a variety of ways), but rather the nature of the end products. There are three varieties of metatheorizing, largely defined by differences in their end products.
The first type, “metatheorizing as a means of attaining a deeper understanding of theory (Mu),” involves the study of theory in order to produce a better, more profound understanding of extant theory. Mu is concerned, more specifically, with the study of theories, theorists, and communities of theorists, as well as with the larger intellectual and social contexts of theories and theorists.
The second type, “metatheorizing as a prelude to theory development (Mp),” entails the study of extant theory in order to produce new sociological theory. Thus Marx's intensive (and critical) study of the theoretical work of economists like Adam Smith and David Ricardo, philosophers such as Georg Hegel and the Young Hegelians, utopian socialists such as Charles Fourier and Pierre-Joseph Proudhon, and many others provided the basis for his own theory. More contemporaneously, the McDonaldization thesis is derived, at least in part, from a study of the theories of Max Weber, especially his theory of rationalization.
The third type, “metatheorizing as a source of overarching theoretical perspectives (Mo),” is oriented to the goal of producing a perspective, a metatheory, that overarches some part or all of sociological theory. Alexander's attempts to develop a “general theoretical logic for sociology,” as well as his later effort to develop a post-positivist approach, would both be examples of this third type of metatheorizing.
Although metatheorizing takes place in other fields, it is particularly characteristic of sociology. The prevalence of metatheorizing in sociology is rooted in the fact that sociologists deal with culturally diverse and historically specific subjects. This makes universal truth claims difficult or impossible. The failure to discover universal truths and invariant laws of the social world has informed many metatheoretical efforts. The clashes of multiple paradigms competing in the realm of sociological theorizing create a perfect condition for the emergence of metatheoretical discourse.
Social theory is embedded not only in academia but also in the larger society. As a result, there are a series of larger forces that impinge on, even control, it. Metatheorizing serves to alert theorists to the existence of these forces as well as to the need to resist them.
The coming of age of metatheorizing in American sociology can be traced to the collapse of the dominant social facts paradigm during the 1960s. That paradigm, especially its major theoretical component, Parsonsian functionalism, had dominated American sociology for more than two decades before it was seriously challenged by rival paradigms, as well as critics from a wide range of other perspectives. The emergence of a multiparadigmatic structure in sociology in the late 1960s reflected the growing disunity of the discipline and increasingly fragmented sociological research. There emerged a widespread feeling that sociology was facing a profound crisis. It was this sense of imminent disciplinary crisis that helped to invigorate meta-analyses of all types. At first, this took the form of what was, at the time, called the sociology of sociology. Later, metasociology had to overcome strongly negative views of the sociology of sociology as being dominated by minor studies of trivial aspects of the discipline. However, metasociology, especially metatheorizing, has survived, even prospered, as the sociology of sociology and its weaknesses have receded into history.
A more recent challenge and spur to metatheorizing is the rise of postmodern social theory. Since the latter involves an assault on rationality and the modern orientation and metatheorizing is both modern and rational, it has come to be questioned by postmodernists. On the other hand, postmodernism has provided metatheorists with a whole series of new tools and approaches with which to study theory.
One example is deconstruction, a form of textual criticism that scrutinizes the ways in which texts, including theoretical texts, are constructed. A deconstructionist takes a finished text and analyzes the ways in which various literary devices and strategies of argumentation are used to give the impression of a coherent whole.
One important deconstructionist technique is decentering. This can mean several things to metatheorists. First, it might mean moving away from according primacy to the author (especially one associated with the discipline's canon) and giving up on the objective of attempting to discern what an author “really” means.
Second, it can mean the end of the effort to get to the heart, or central meaning, of a theory. Rather, the objective might be to focus on more promising peripheral aspects of that theory. Certain passages of specific works often are presented in such a way that they are made to seem of central importance. Over the years, metatheorists have tended to emphasize those passages or to enshrine other passages as being of key importance. In this context, deconstructionism leads one away from the familiar passages and into ignored aspects of the theory or perhaps rarely read footnotes.
Third, it might be advisable to focus on an undecidable moment in the history of social theory and an analysis of some of the courses taken and, more importantly from the point of view of deconstructionism, not taken by social theory.
Fourth, an effort might be made to reverse the resident hierarchy, only to displace it. There is, for example, a clear hierarchy of schools of sociological theory and there is a tendency to devote most attention to the leading schools. This suggests that what metatheorists need to do is focus more attention on the most marginal of schools (this is another version of decentering) for their marginality may tell us a great deal about the theoretical system in which they exist. Furthermore, their very marginality may make them far easier to study than high-ranking theoretical perspectives. This is traceable to the fact that those associated with lower-ranking perspectives have little to hide, while thinkers linked with the premier schools have a vested interest in concealing things that may adversely affect their exalted status. Similarly, specific ideas have come to be seen as of central importance in every theoretical perspective. These ideas tend to come to the fore any time a given theory is examined or discussed. However, it is entirely possible that important ideas have been lost and a search for those marginal ideas could pay huge dividends.
However, the search for marginal schools, theorists, or ideas should not be turned into a routine or into a new, albeit reversed, hierarchy. Deconstructionism leads to the idea that all such routines, or hierarchies, need to be continually displaced. This prevents metatheoretical work from settling into any comfortable routines; any new construction immediately must be deconstructed.
It is this last aspect of deconstructionism that has the most important implications for metatheorizing. As modernists, most metatheorists have implicitly engaged in deconstruction, but almost always with the objective that they and/or those influenced by their work would engage in a process of reconstruction. This could involve the rebuilding of the theory they have just deconstructed or the use of the lessons learned to create an entirely new theoretical perspective. As modernists, most metatheorists would reject the idea of deconstruction in order to further deconstruct. Rather, they would be oriented to the modern view of progress toward the goal of the ultimate theoretical perspective, or truth about it. However, as with all modern notions, this seeks an end or closure of the theoretical “conversation” in the creation of that ultimate theory. The postmodern view is that the goal is not to end the conversation in some ultimate truth, but rather to continually deconstruct in order to keep the conversation going. Such an objective makes sense for metatheoretical work; in fact, it may be the raison d'être for such work. A round of metatheoretical work may be seen as merely the basis for the next one and not as aimed at some ultimate and conclusive objective. In these terms, metatheorizing may be seen as the exercise par excellence in keeping the theoretical conversation going.
While it is possible to look at postmodern theory as a threat to modern forms of metatheorizing, it also is possible to see it as offering an array of provocative new ideas that could be of great use to it and point it in a variety of new directions.
Related Entries: Deconstruction; Durkheim, Émile; Hermeneutics; Meta-Analysis; Positivism; Postmodernism; Postpositivisim; Theory Construction
• Furfey, P. H. (1965) The Scope and Method of Sociology: A Meta-Sociological Treatise . Cooper Square , New York.
• Kuhn, T. (1970) The Structure of Scientific Revolutions , 2nd edn. University of Chicago Press , Chicago.
• Ritzer, G. (1975) Sociology: A Multiple Paradigm Science . Allyn & Bacon , Boston.
• Ritzer, G. (1981) Toward an Integrated Sociological Paradigm: The Search for an Exemplar and an Image of the Subject Matter . Allyn & Bacon , Boston.
• Ritzer, G. (1991) Metatheorizing in Sociology . Lexington Books , Lexington, MA.
• Ritzer, G., Zhao, S., & Murphy, J. (2001) Metatheorizing in Sociology: The Basic Parameters and the Potential Contributions of Postmodernism . In: Turner, J. (Ed.), Handbook of Sociological Theory . Kluwer , New York, pp. 113 31.
• Zhao, S. (2001) Metatheorizing in Sociology . In: Ritzer, G. & Smart, B. (Eds.), Handbook of Social Theory . Sage , London, pp. 386 94.
The Blackwell Encyclopedia of Sociology online is available either by annual subscription or as a one-time purchase with an annual fee covering hosting and updates.
For more information on the Encyclopedia visit www.sociologyencyclopedia.com, contact your usual Blackwell Publishing Account Manager or email libraryinfo@blackwellpublishing.com
http://www.blackwellreference.com/public/beos_metatheory
George Ritzer
A metatheory is a broad perspective that overarches two, or more, theories. There are many metatheories – positivism, post-positivism, hermeneutics, and so on – of importance in sociology and other social sciences. Two of the best known and most important are methodological holism and methodological individualism. Methodological holism takes as its basic unit of analysis, and focuses most of its attention on, “social wholes” such as social structures, social institutions, imperatively coordinated associations, and capitalism. It overarches such large-scale, macro-level theories as structural functionalism, conflict theory, and some varieties of neo-Marxian theory. Methodological individualism takes as its unit of analysis and focal concern individual-level phenomena such as the mind, self, action, accounts, behavior, rational action, and so on. It overarches a series of micro-level theories such as symbolic interactionism, ethnomethodology, exchange theory, and rational choice theory. There is a third, methodological relationism, that concerns itself with the relationship between social wholes and social individuals and overarches a series of theories that arose mainly in the 1980s to compensate for the micro- and macro-extremism of the two extant metatheories. Methodological relationism encompasses a number of largely American micro–macro theories and more European agency–structure theories.
A particularly useful term to use in thinking about metatheories is Thomas Kuhn's famous, albeit highly ambiguous and controversial, notion of a paradigm. In fact, a paradigm is broader than a metatheory because it encompasses not only theories, but also methods, images of the subject matter of sociology, and a body of work that serves as an exemplar for those who work within the paradigm (Ritzer 1975).
The social facts paradigm derives its name and orientation from the work of Émile Durkheim and his contention that sociology should involve the study of social facts that are external to and coercive over individuals. He distinguished between two broad types of social facts – material (now most commonly called social structures) and non-material (now usually called social institutions). The two major theories subsumed under this heading are structural functionalism and conflict theory, and to a lesser extent systems theory. The social definition paradigm derives its name from W. I. Thomas's “definition of the situation” (if people define situations as real, they are real in their consequences). Symbolic interactionism is a theoretical component of the social definition paradigm, as is ethnomethodology. Finally, there is the social behavior paradigm, adopting a focus on behavior from the psychological behaviorists, especially B. F. Skinner. Exchange theory and rational choice would be included in this paradigm.
The relatively narrow macro (social facts) and micro (social definition and social behavior) foci of extant paradigms led to the delineation of a more integrated sociological paradigm. Marx and his dialectical approach, especially to the relationship between the capitalists and proletariat on one side and the structures of capitalism on the other, are taken as the exemplar of this approach and this paradigm can be seen as encompassing the micro–macro and agency–structure theories mentioned above.
Metatheorizing can be seen as a specific form of metasociology that examines sociological theory. While sociological theorizing attempts to make sense of the social world, metatheorizing attempts to make sense of sociological theorizing. As with other forms of metastudy, reflexivity is a crucial component of sociological metatheorizing. All metatheorizing involves a high level of reflexivity, although the highest level of reflexivity is found among metatheorists.
Metasociology encompasses not only metatheorizing, but also meta-methods and meta-data-analysis. Meta-methods involves the reflexive study of the discipline's various methods, while meta-data-analysis takes as its subject a range of studies of a given phenomenon and seeks to gain an overall sense of them and to aggregate the data in order to come to a more general conclusion about a particular issue.
A wide variety of work can be included under the heading of sociological metatheorizing. What distinguishes this work is not so much the process of metatheorizing (it may vary greatly in a variety of ways), but rather the nature of the end products. There are three varieties of metatheorizing, largely defined by differences in their end products.
The first type, “metatheorizing as a means of attaining a deeper understanding of theory (Mu),” involves the study of theory in order to produce a better, more profound understanding of extant theory. Mu is concerned, more specifically, with the study of theories, theorists, and communities of theorists, as well as with the larger intellectual and social contexts of theories and theorists.
The second type, “metatheorizing as a prelude to theory development (Mp),” entails the study of extant theory in order to produce new sociological theory. Thus Marx's intensive (and critical) study of the theoretical work of economists like Adam Smith and David Ricardo, philosophers such as Georg Hegel and the Young Hegelians, utopian socialists such as Charles Fourier and Pierre-Joseph Proudhon, and many others provided the basis for his own theory. More contemporaneously, the McDonaldization thesis is derived, at least in part, from a study of the theories of Max Weber, especially his theory of rationalization.
The third type, “metatheorizing as a source of overarching theoretical perspectives (Mo),” is oriented to the goal of producing a perspective, a metatheory, that overarches some part or all of sociological theory. Alexander's attempts to develop a “general theoretical logic for sociology,” as well as his later effort to develop a post-positivist approach, would both be examples of this third type of metatheorizing.
Although metatheorizing takes place in other fields, it is particularly characteristic of sociology. The prevalence of metatheorizing in sociology is rooted in the fact that sociologists deal with culturally diverse and historically specific subjects. This makes universal truth claims difficult or impossible. The failure to discover universal truths and invariant laws of the social world has informed many metatheoretical efforts. The clashes of multiple paradigms competing in the realm of sociological theorizing create a perfect condition for the emergence of metatheoretical discourse.
Social theory is embedded not only in academia but also in the larger society. As a result, there are a series of larger forces that impinge on, even control, it. Metatheorizing serves to alert theorists to the existence of these forces as well as to the need to resist them.
The coming of age of metatheorizing in American sociology can be traced to the collapse of the dominant social facts paradigm during the 1960s. That paradigm, especially its major theoretical component, Parsonsian functionalism, had dominated American sociology for more than two decades before it was seriously challenged by rival paradigms, as well as critics from a wide range of other perspectives. The emergence of a multiparadigmatic structure in sociology in the late 1960s reflected the growing disunity of the discipline and increasingly fragmented sociological research. There emerged a widespread feeling that sociology was facing a profound crisis. It was this sense of imminent disciplinary crisis that helped to invigorate meta-analyses of all types. At first, this took the form of what was, at the time, called the sociology of sociology. Later, metasociology had to overcome strongly negative views of the sociology of sociology as being dominated by minor studies of trivial aspects of the discipline. However, metasociology, especially metatheorizing, has survived, even prospered, as the sociology of sociology and its weaknesses have receded into history.
A more recent challenge and spur to metatheorizing is the rise of postmodern social theory. Since the latter involves an assault on rationality and the modern orientation and metatheorizing is both modern and rational, it has come to be questioned by postmodernists. On the other hand, postmodernism has provided metatheorists with a whole series of new tools and approaches with which to study theory.
One example is deconstruction, a form of textual criticism that scrutinizes the ways in which texts, including theoretical texts, are constructed. A deconstructionist takes a finished text and analyzes the ways in which various literary devices and strategies of argumentation are used to give the impression of a coherent whole.
One important deconstructionist technique is decentering. This can mean several things to metatheorists. First, it might mean moving away from according primacy to the author (especially one associated with the discipline's canon) and giving up on the objective of attempting to discern what an author “really” means.
Second, it can mean the end of the effort to get to the heart, or central meaning, of a theory. Rather, the objective might be to focus on more promising peripheral aspects of that theory. Certain passages of specific works often are presented in such a way that they are made to seem of central importance. Over the years, metatheorists have tended to emphasize those passages or to enshrine other passages as being of key importance. In this context, deconstructionism leads one away from the familiar passages and into ignored aspects of the theory or perhaps rarely read footnotes.
Third, it might be advisable to focus on an undecidable moment in the history of social theory and an analysis of some of the courses taken and, more importantly from the point of view of deconstructionism, not taken by social theory.
Fourth, an effort might be made to reverse the resident hierarchy, only to displace it. There is, for example, a clear hierarchy of schools of sociological theory and there is a tendency to devote most attention to the leading schools. This suggests that what metatheorists need to do is focus more attention on the most marginal of schools (this is another version of decentering) for their marginality may tell us a great deal about the theoretical system in which they exist. Furthermore, their very marginality may make them far easier to study than high-ranking theoretical perspectives. This is traceable to the fact that those associated with lower-ranking perspectives have little to hide, while thinkers linked with the premier schools have a vested interest in concealing things that may adversely affect their exalted status. Similarly, specific ideas have come to be seen as of central importance in every theoretical perspective. These ideas tend to come to the fore any time a given theory is examined or discussed. However, it is entirely possible that important ideas have been lost and a search for those marginal ideas could pay huge dividends.
However, the search for marginal schools, theorists, or ideas should not be turned into a routine or into a new, albeit reversed, hierarchy. Deconstructionism leads to the idea that all such routines, or hierarchies, need to be continually displaced. This prevents metatheoretical work from settling into any comfortable routines; any new construction immediately must be deconstructed.
It is this last aspect of deconstructionism that has the most important implications for metatheorizing. As modernists, most metatheorists have implicitly engaged in deconstruction, but almost always with the objective that they and/or those influenced by their work would engage in a process of reconstruction. This could involve the rebuilding of the theory they have just deconstructed or the use of the lessons learned to create an entirely new theoretical perspective. As modernists, most metatheorists would reject the idea of deconstruction in order to further deconstruct. Rather, they would be oriented to the modern view of progress toward the goal of the ultimate theoretical perspective, or truth about it. However, as with all modern notions, this seeks an end or closure of the theoretical “conversation” in the creation of that ultimate theory. The postmodern view is that the goal is not to end the conversation in some ultimate truth, but rather to continually deconstruct in order to keep the conversation going. Such an objective makes sense for metatheoretical work; in fact, it may be the raison d'être for such work. A round of metatheoretical work may be seen as merely the basis for the next one and not as aimed at some ultimate and conclusive objective. In these terms, metatheorizing may be seen as the exercise par excellence in keeping the theoretical conversation going.
While it is possible to look at postmodern theory as a threat to modern forms of metatheorizing, it also is possible to see it as offering an array of provocative new ideas that could be of great use to it and point it in a variety of new directions.
Related Entries: Deconstruction; Durkheim, Émile; Hermeneutics; Meta-Analysis; Positivism; Postmodernism; Postpositivisim; Theory Construction
• Furfey, P. H. (1965) The Scope and Method of Sociology: A Meta-Sociological Treatise . Cooper Square , New York.
• Kuhn, T. (1970) The Structure of Scientific Revolutions , 2nd edn. University of Chicago Press , Chicago.
• Ritzer, G. (1975) Sociology: A Multiple Paradigm Science . Allyn & Bacon , Boston.
• Ritzer, G. (1981) Toward an Integrated Sociological Paradigm: The Search for an Exemplar and an Image of the Subject Matter . Allyn & Bacon , Boston.
• Ritzer, G. (1991) Metatheorizing in Sociology . Lexington Books , Lexington, MA.
• Ritzer, G., Zhao, S., & Murphy, J. (2001) Metatheorizing in Sociology: The Basic Parameters and the Potential Contributions of Postmodernism . In: Turner, J. (Ed.), Handbook of Sociological Theory . Kluwer , New York, pp. 113 31.
• Zhao, S. (2001) Metatheorizing in Sociology . In: Ritzer, G. & Smart, B. (Eds.), Handbook of Social Theory . Sage , London, pp. 386 94.
The Blackwell Encyclopedia of Sociology online is available either by annual subscription or as a one-time purchase with an annual fee covering hosting and updates.
For more information on the Encyclopedia visit www.sociologyencyclopedia.com, contact your usual Blackwell Publishing Account Manager or email libraryinfo@blackwellpublishing.com
http://www.blackwellreference.com/public/beos_metatheory
URGENSI PENDIDIKAN LINGKUNGAN BAGI ANAK
Tulisan ini ditulis sewaktu belajar di Randublatung, Blora, Jawa Tengah, tahun 2002
URGENSI PENDIDIKAN LINGKUNGAN BAGI ANAK
Manusia dalam kehidupannya tidak bisa terlepaskan dari lingkungan yang ada di sekitarnya, baik lingkungan sosial atau lingkungan alam. Antara ketiganya merupakan satu kesatuan yang integral . Manusia dalam keberadaannya di muka bumi sebagai khalifah sudah seyogyanyalah berusaha seoptimal mungkin memainkan perannnya. Dengan berperan secara “adil” maka diharapkan akan tercipta suatu kondisi lingkungan yang harmonis, selaras, serasi dan seimbang. Dan apa yang diidealkan oleh banyak orang selama ini akan bisa terwujud. “Lestari alamku, sejahtera masyarakatku”.
Kondisi idealita seperti itu saat ini sepertinya bak sesuatu yang langka dan mahal. Bagaimana tidak ?? Polusi udara semakin menghebat sehingga lapisan ozon makin menipis. Udara terasa panas dan bumipun ikut panas. Kebakaran hutan, penebangan hutan secara liar semakin menggila. Banyak oknum yang tidak bertanggungjawab berbuat tidak senonoh terhadap indahnya alam yang dulu hijau. Eksploitasi terhadap Sumber Daya Alam semakin rakus dan tamak. Ya…..mereka korbankan kepentingan banyak orang, banyak jiwa hanya untuk memenuhi perut mereka. Di sini banyak rakyat kecil yang jadi korbannya. Bagaimana tidak ?? Rakyat kecil yang selama ini diposisikan sebagai wong cilik, wong bodho terus didomistifikasikan oleh segelintir orang yang merasa sebagai orang yang ‘sok tahu, sok pinter, sok modern, sok idealis, dan berjuta sok yang lainnya”. Rakyat terus dibodohi.
Seiring dengan perkembangan waktu, rakyat pun semakin menjadi sadar. Bahwa ternyata selama ini mereka diperalat oleh sebagian oknum untuk memuaskan nafsu serakah “wong-wong yang merasa pinter dan berkuasa”. Ya….nafsu serakah tuk senantiasa mengeksploitasi Sumber Daya Alam yang ada. Kondisi yang timbulpun sudah pasti bisa ditebak, dilihat dan dirasakan. Persediaan Sumber Daya Alam (terutama yang tidak bisa diperbaharui) semakin menipis. Kalau sudah menipis dan lama-kelamaan habis, maka bangsa Indonesia (yang oleh dunia disebut sebagai surga-nya dunia) tinggal gigit jari. Mringis. Menyesal. Tapi, apa guna penyesalan di belakang ?? It’s useless.
Lagi-lagi, sebelum kondisi lingkungan bumi Indonesia semakin gawat darurat. Perlu diadakan recovery. Ya….Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali melakukan sesuatu . (kalo cuman banyak ngomong atau nggedabul wae.. yo…sama juga bo’ong alias nonsen, dab !!!). So,…di sinilah pentingnya untuk membangun kembali kesadaran akan pentingnya pendidikan lingkungan. (ingat.. pendidikan dalam konteks ini tidak harus selalu didefinisikan sebagai pendidikan formal !! Tolong , pendidikan dalam konteks ini dimaknai secara “luas”. Bahwa pendidikan itu tidak terbatas ruang dan waktu. Kapan saja, di mana saja, kita bisa memperoleh pendidikan tersebut !!)
Pendidikan yang penting sebenarnya dimulai dari lingkungan sosial yang paling kecil, yaitu keluarga. Keluarga yang berfungsi salah satunya untuk pendidikan menjadi basic yang kuat dalam proses internalisasi nilai-nilai yang diterapkan oleh suatu unit sosial yang terkecil tersebut. Mengapa keluarga menjadi basic dalam konteks pendidikan lingkungan ini ?? Hal ini tentu saja kembali kepada fungsi dari lembaga keluarga itu sendiri. Seorang anak, pertama kali akan menerima nilai-nilai sosial yang ada di sekitarnya itu diawali dengan adanya sosialisasi yang dilakukan oleh orang tua. Atau singkatnya adalah bahwa lingkungan pertama yang dikenal pertama kali oleh seorang anak adalah lingkungan keluarga. (Terutama orang tua, Bapak dan Ibu .) Adanya proses sosialisasi ini, maka si anak akan menginternalisasi apa yang mereka dapat serap dan terima. Dan pada akhirnya apa yang mereka internalisasi itu biasanya akan menjadi panduan bagi si anak dalam rangka membentuk jati dirinya. (dalam konteks ini orang tua di pandang sebagai “ figur ideal” bagi si anak.)
Karena begitu pentingnya peran pendidikan keluarga bagi pengembangan kepribadian anak, maka disinilah dituntut agar keluarga bisa benar-benar sebagai “laboratorium mini” yang kondusif bagi si anak. Keluarga harus mengembangkan sistem yang ada dalam instisusi kecil tersebut secara adil , harmonis, transparan, aspiratif dan demokratis. Sehingga pada akhirnya bisa tercipta suatu kondisi yang memang benar-benar kondusif.
Dalam konteks pendidikan lingkungan bagi si anak , keluarga berperan sebagai “agent of values transformation”. Institusi ini mempunyai fungsi untuk mensosialisasikan kepada anak akan urgensi lingkungan yang sehat, baik lingkungan sosial ataupun lingkungan alam yang ada di sekitarnya. Lingkungan sosial yang sehat artinya adalah bahwa selaku anggota masyarakat setiap orang harus bisa berperan sesuai dengan kapabilitasnya. Artinya adalah bahwa dalam suatu lembaga sosial yang lebih besar (dalam hal ini masyarakat) orang harus mengetahui akan sistem , nilai –nilai dan budaya yang ada di sekitarnya. Sehingga ia bisa memainkan perannya sebagai “makhluk sosial’ secara baik, tanpa ada kepincangan pergaulan yang menajam, yang pada akhirnya bisa membawa implikasi pada timbulnya “penyakit sosial” yang akut.
Sementara itu , lingkungan alam yang sehat mempunyai makna bahwa apa yang ada di muka bumi sebagai kekayaan alam ( baik SDA yang bisa diperbaharui atau tidak bisa diperbaharui) , yang telah dianugerahkan oleh Tuhan YME harus kita jaga, kita rawat dan kita manfaatkan secara adi, selaras dan optimal dengan tetap memperhatikan kelestariannya. Artinya , dalam konteks ini kita tidak boleh mengesksploitasi SDA yang di luar batas kewajaran. Kalau sampai kita (manusia-manusia yang diamanahi oleh Tuhan untuk memanaj SDA yang ada) melakukan itu, maka tidak segan-segan Tuhan memberikan hukumannya. (Seperti apa yang telah di-nash-kan Oleh-Nya dalam kitab suci Alqur’an).
Namun apa daya, ternyata manusia lupa dengan apa yang telah difirmankan oleh Tuhan. (Atau manusia memang sengaja melupakan batasan-batasan yang telah diberikan oleh Tuhan ??!!) Kondisi riil yang ada menunjukkan pada kita semua bahwa degradasi lingkungan telah terjadi di bumi Indonesia. Ibu pertiwi sedih. Ibu pertiwi menangis. Indonesia yang dikenal oleh dunia sebagai negeri yang kaya akan sumber daya alamnya dan masyarakatnya yang ramah ternyata tidak seindah apa yang dinilai oleh dunia . Atau lebih tepatnya lagi, (kalau memang kita jujur dan gentle tuk mengakuinya) seharusnya kita malu dengan apa yang ada dalam kenyataannya. Sebagian kecil masyarakat Indonesia ternyata tidak ramah terhadap lingkungannya. Dan justru malah berbuat seenaknya sendiri.
Diakui dengan sesungguhnya bahwa tugas menjaga, merawat dan mengamankan keselamatan SDA yang ada di bumi Indonesia (yang sudah semakin kritis ini…….) bukan merupakan tanggung jawab si A, si B atau si C. Tapi sebenarnya merupakan tanggungjawab bersama. Ya…bersama !!! Dan ini harus dimulai dari lingkup sosial yang paling kecil, seperti keluarga. Ketika dalam lingkup yang paling kecil sudah “beres” (tertib lingkungan-red), Insya Allah ini akan bisa membawa dampak yang luas bagi terciptanya tertib lingkungan di tingkat masyarakat.
Lalu yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana agar institusi-institusi sosial di atas keluarga bisa mendukung “ green movement ” (that green is beautiful…and beautiful is peace….) ??? Dalam konteks ini, kita ambil sekup yang lebih sempit saja. Instistusi pendidikan sekolah (dalam artian formal). Dalam institusi ini, sekolah yang selama ini dipandang sebagai “agent of change” harus mengubah paradigmanya. Selama ini paradigma sistem pendidikan yang ada selalu menitikberatkan pada “pencetakan-pencetakan” SDM-SDM yang siap menjadi tenaga kerja yang hightech, yang mampu berkompetisi dalam era globalisasi (bahkan gombalisasi…he..he…he…).
Dengan adanya perubahan paradigma ini diharapkan akan terlahirkan SDM-SDM yang benar-benar berkualitas dan mempunyai sense of nature and human being yang tinggi. Dan alam (khususnya alam Indonesia) pun akan terselamatkan dari tangan-tangan manusia yang haus akan eksploitasi SDA yang hanya berorientasi pada “self interest”.
Lalu, LSM “yang selama ini tetap kuat jargonnya” , sebagai “controller of government” di mana ia berperan ?? LSM dalam konteks ini akan tetap ugent dalam keberadaannya. Ia bisa memberikan input-input alternatif yang solutif bagi pemerintah dalam kerangka mensukseskan gerakan “Cintailah Alammu..!!”. Ya….gerakan besar (green and peace movement) memang harus disadari sebagai gerakan jangka panjang . Ini artinya merupakan suatu proses yang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dan proses ini harus dimulai dari kita masing-masing, keluarga kita, masyarakat dan sebagainya. Keep on surviving the green nature…!!! Green is beautiful….Beautiful is peace…!! (Big something must be started from small thing….) Let’s make everything better…!!
URGENSI PENDIDIKAN LINGKUNGAN BAGI ANAK
Manusia dalam kehidupannya tidak bisa terlepaskan dari lingkungan yang ada di sekitarnya, baik lingkungan sosial atau lingkungan alam. Antara ketiganya merupakan satu kesatuan yang integral . Manusia dalam keberadaannya di muka bumi sebagai khalifah sudah seyogyanyalah berusaha seoptimal mungkin memainkan perannnya. Dengan berperan secara “adil” maka diharapkan akan tercipta suatu kondisi lingkungan yang harmonis, selaras, serasi dan seimbang. Dan apa yang diidealkan oleh banyak orang selama ini akan bisa terwujud. “Lestari alamku, sejahtera masyarakatku”.
Kondisi idealita seperti itu saat ini sepertinya bak sesuatu yang langka dan mahal. Bagaimana tidak ?? Polusi udara semakin menghebat sehingga lapisan ozon makin menipis. Udara terasa panas dan bumipun ikut panas. Kebakaran hutan, penebangan hutan secara liar semakin menggila. Banyak oknum yang tidak bertanggungjawab berbuat tidak senonoh terhadap indahnya alam yang dulu hijau. Eksploitasi terhadap Sumber Daya Alam semakin rakus dan tamak. Ya…..mereka korbankan kepentingan banyak orang, banyak jiwa hanya untuk memenuhi perut mereka. Di sini banyak rakyat kecil yang jadi korbannya. Bagaimana tidak ?? Rakyat kecil yang selama ini diposisikan sebagai wong cilik, wong bodho terus didomistifikasikan oleh segelintir orang yang merasa sebagai orang yang ‘sok tahu, sok pinter, sok modern, sok idealis, dan berjuta sok yang lainnya”. Rakyat terus dibodohi.
Seiring dengan perkembangan waktu, rakyat pun semakin menjadi sadar. Bahwa ternyata selama ini mereka diperalat oleh sebagian oknum untuk memuaskan nafsu serakah “wong-wong yang merasa pinter dan berkuasa”. Ya….nafsu serakah tuk senantiasa mengeksploitasi Sumber Daya Alam yang ada. Kondisi yang timbulpun sudah pasti bisa ditebak, dilihat dan dirasakan. Persediaan Sumber Daya Alam (terutama yang tidak bisa diperbaharui) semakin menipis. Kalau sudah menipis dan lama-kelamaan habis, maka bangsa Indonesia (yang oleh dunia disebut sebagai surga-nya dunia) tinggal gigit jari. Mringis. Menyesal. Tapi, apa guna penyesalan di belakang ?? It’s useless.
Lagi-lagi, sebelum kondisi lingkungan bumi Indonesia semakin gawat darurat. Perlu diadakan recovery. Ya….Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali melakukan sesuatu . (kalo cuman banyak ngomong atau nggedabul wae.. yo…sama juga bo’ong alias nonsen, dab !!!). So,…di sinilah pentingnya untuk membangun kembali kesadaran akan pentingnya pendidikan lingkungan. (ingat.. pendidikan dalam konteks ini tidak harus selalu didefinisikan sebagai pendidikan formal !! Tolong , pendidikan dalam konteks ini dimaknai secara “luas”. Bahwa pendidikan itu tidak terbatas ruang dan waktu. Kapan saja, di mana saja, kita bisa memperoleh pendidikan tersebut !!)
Pendidikan yang penting sebenarnya dimulai dari lingkungan sosial yang paling kecil, yaitu keluarga. Keluarga yang berfungsi salah satunya untuk pendidikan menjadi basic yang kuat dalam proses internalisasi nilai-nilai yang diterapkan oleh suatu unit sosial yang terkecil tersebut. Mengapa keluarga menjadi basic dalam konteks pendidikan lingkungan ini ?? Hal ini tentu saja kembali kepada fungsi dari lembaga keluarga itu sendiri. Seorang anak, pertama kali akan menerima nilai-nilai sosial yang ada di sekitarnya itu diawali dengan adanya sosialisasi yang dilakukan oleh orang tua. Atau singkatnya adalah bahwa lingkungan pertama yang dikenal pertama kali oleh seorang anak adalah lingkungan keluarga. (Terutama orang tua, Bapak dan Ibu .) Adanya proses sosialisasi ini, maka si anak akan menginternalisasi apa yang mereka dapat serap dan terima. Dan pada akhirnya apa yang mereka internalisasi itu biasanya akan menjadi panduan bagi si anak dalam rangka membentuk jati dirinya. (dalam konteks ini orang tua di pandang sebagai “ figur ideal” bagi si anak.)
Karena begitu pentingnya peran pendidikan keluarga bagi pengembangan kepribadian anak, maka disinilah dituntut agar keluarga bisa benar-benar sebagai “laboratorium mini” yang kondusif bagi si anak. Keluarga harus mengembangkan sistem yang ada dalam instisusi kecil tersebut secara adil , harmonis, transparan, aspiratif dan demokratis. Sehingga pada akhirnya bisa tercipta suatu kondisi yang memang benar-benar kondusif.
Dalam konteks pendidikan lingkungan bagi si anak , keluarga berperan sebagai “agent of values transformation”. Institusi ini mempunyai fungsi untuk mensosialisasikan kepada anak akan urgensi lingkungan yang sehat, baik lingkungan sosial ataupun lingkungan alam yang ada di sekitarnya. Lingkungan sosial yang sehat artinya adalah bahwa selaku anggota masyarakat setiap orang harus bisa berperan sesuai dengan kapabilitasnya. Artinya adalah bahwa dalam suatu lembaga sosial yang lebih besar (dalam hal ini masyarakat) orang harus mengetahui akan sistem , nilai –nilai dan budaya yang ada di sekitarnya. Sehingga ia bisa memainkan perannya sebagai “makhluk sosial’ secara baik, tanpa ada kepincangan pergaulan yang menajam, yang pada akhirnya bisa membawa implikasi pada timbulnya “penyakit sosial” yang akut.
Sementara itu , lingkungan alam yang sehat mempunyai makna bahwa apa yang ada di muka bumi sebagai kekayaan alam ( baik SDA yang bisa diperbaharui atau tidak bisa diperbaharui) , yang telah dianugerahkan oleh Tuhan YME harus kita jaga, kita rawat dan kita manfaatkan secara adi, selaras dan optimal dengan tetap memperhatikan kelestariannya. Artinya , dalam konteks ini kita tidak boleh mengesksploitasi SDA yang di luar batas kewajaran. Kalau sampai kita (manusia-manusia yang diamanahi oleh Tuhan untuk memanaj SDA yang ada) melakukan itu, maka tidak segan-segan Tuhan memberikan hukumannya. (Seperti apa yang telah di-nash-kan Oleh-Nya dalam kitab suci Alqur’an).
Namun apa daya, ternyata manusia lupa dengan apa yang telah difirmankan oleh Tuhan. (Atau manusia memang sengaja melupakan batasan-batasan yang telah diberikan oleh Tuhan ??!!) Kondisi riil yang ada menunjukkan pada kita semua bahwa degradasi lingkungan telah terjadi di bumi Indonesia. Ibu pertiwi sedih. Ibu pertiwi menangis. Indonesia yang dikenal oleh dunia sebagai negeri yang kaya akan sumber daya alamnya dan masyarakatnya yang ramah ternyata tidak seindah apa yang dinilai oleh dunia . Atau lebih tepatnya lagi, (kalau memang kita jujur dan gentle tuk mengakuinya) seharusnya kita malu dengan apa yang ada dalam kenyataannya. Sebagian kecil masyarakat Indonesia ternyata tidak ramah terhadap lingkungannya. Dan justru malah berbuat seenaknya sendiri.
Diakui dengan sesungguhnya bahwa tugas menjaga, merawat dan mengamankan keselamatan SDA yang ada di bumi Indonesia (yang sudah semakin kritis ini…….) bukan merupakan tanggung jawab si A, si B atau si C. Tapi sebenarnya merupakan tanggungjawab bersama. Ya…bersama !!! Dan ini harus dimulai dari lingkup sosial yang paling kecil, seperti keluarga. Ketika dalam lingkup yang paling kecil sudah “beres” (tertib lingkungan-red), Insya Allah ini akan bisa membawa dampak yang luas bagi terciptanya tertib lingkungan di tingkat masyarakat.
Lalu yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana agar institusi-institusi sosial di atas keluarga bisa mendukung “ green movement ” (that green is beautiful…and beautiful is peace….) ??? Dalam konteks ini, kita ambil sekup yang lebih sempit saja. Instistusi pendidikan sekolah (dalam artian formal). Dalam institusi ini, sekolah yang selama ini dipandang sebagai “agent of change” harus mengubah paradigmanya. Selama ini paradigma sistem pendidikan yang ada selalu menitikberatkan pada “pencetakan-pencetakan” SDM-SDM yang siap menjadi tenaga kerja yang hightech, yang mampu berkompetisi dalam era globalisasi (bahkan gombalisasi…he..he…he…).
Dengan adanya perubahan paradigma ini diharapkan akan terlahirkan SDM-SDM yang benar-benar berkualitas dan mempunyai sense of nature and human being yang tinggi. Dan alam (khususnya alam Indonesia) pun akan terselamatkan dari tangan-tangan manusia yang haus akan eksploitasi SDA yang hanya berorientasi pada “self interest”.
Lalu, LSM “yang selama ini tetap kuat jargonnya” , sebagai “controller of government” di mana ia berperan ?? LSM dalam konteks ini akan tetap ugent dalam keberadaannya. Ia bisa memberikan input-input alternatif yang solutif bagi pemerintah dalam kerangka mensukseskan gerakan “Cintailah Alammu..!!”. Ya….gerakan besar (green and peace movement) memang harus disadari sebagai gerakan jangka panjang . Ini artinya merupakan suatu proses yang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dan proses ini harus dimulai dari kita masing-masing, keluarga kita, masyarakat dan sebagainya. Keep on surviving the green nature…!!! Green is beautiful….Beautiful is peace…!! (Big something must be started from small thing….) Let’s make everything better…!!
AYO BELAJAR BERSAMA MASYARAKAT !! PARTICIPATORY RURAL APPRAISAL
“Datanglah kepada rakyat, hiduplah bersama mereka, belajarlah dari mereka, cintailah mereka, mulailah dari apa yang mereka tahu, bangunlah dari apa yang mereka punyai, tetapi pendamping yang baik adalah ketika pekerjaan selesai dan tugas dirampungkan, rakyat berkata : Kami sendirilah yang mengerjakannya”
Metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa metode Partispatoris (Riset Partisipatoris), yaitu suatu metode yang dilakukan secara bersama dan didasari oleh logika emansipatoris-partispatoris. Dimana pada penelitian ini menerapkan masyarakat sebagai subyek penelitian.
Prinsip-prinsip yang secara umum dilakukan dalam penelitian Partisipatoris (Chambers, 1996:34) :
1) suatu pembalikan pemahaman, belajar dari masyarakat desa, secara langsung, pada daerah pinggiran, berhadapan secara langsung, mendapatkan pengetahuan fisik, teknis, dan sosial secara lokal.
2) Belajar secara cepat dan progresif, melalui eksplorasi yang terencana, pemakaian metode yang fleksibel, improvisasi, iterasi atau pengulangan. Serta check silang, tidak mengikuti program cetak biru tetapi lebih bersifat dapat menyesuaikan dengan proses belajar atau pemahaman.
3) Menyeimbangkan bias, khususnya bagi wisata pengembangan pedesaan, rileks dan tidak tergesa-gesa, mendengarkan dan bukan menggurui, penggalian topik, tidak memaksakan dan mencari masyarakat yang lebih miskin serta memahami prioritas dan pokok perhatian mereka.
4) Optimalisasi pertukaran, mengaitkan biaya pemahaman dengan informasi yang benar-benar bermanfaat, dengan pertukaran antar kuantitas, kegayutan, keakuratan serta ketepatan waktu. Ini termasuk prinsip-prinsip pengabaian optimal- mengetahui apa yang tidak perlu diketahui dan mengetahui ketidakakuratan-tidak melakukan pengukuran melebihi dari yang diperlukan.
5) Membuat jaringan titik-titik pengukuran, dapat diartikan sebagai penggunaan suatu kisaran (kadang-kadang tiga) yang terdiri dari metode, jenis informasi, peneliti dan atau disiplin untuk pengecekan silang.
6) Mencari keanekaragaman,maksudnya adalah mencari hal yang berbeda-beda dari pada rata-rata.
7) Pemberian fasilitas, artinya memberikan fasilitas penyelidikan, analisis, penyajian dan pemahaman oleh masyarakat desa itu sendiri, sehingga mereka dapat menyajikan dan memiliki hasilnya dan juga mempelajarinya.
8) Adanya kesadaran dan tanggungjawab yang diri yang kritis, artinya fasilitator secara terus-menerus menguji tingkah laku mereka dan mencoba melakukannya secara lebih baik. Ini termasuk merangkul kesalahan- menerima kesalahan sebagai suatu kesempatan untuk belajar melakukan yang lebih baik dan setiap saat menggunakan penilaian orang yang paling baik, yang berarti dapat menerima tanggungjawab diri.
9) Saling berbagi informasi dan gagasan antar masyarakat desa, antar masyarakat desa dengan fasilitator dan antar fasilitator yang berbeda serta saling berbagi wilayah kegiatan, pelatihan dan pengalaman antar organisasi yang berbeda.
Metode penelitian ini merupakan satu pendekatan abduksi dan alternatif, di mana penelitian dan metode yang dilakukan dengan dasar kritik sosial pada realitas sehingga lebih berwujud kritik sosial, evaluasi dan refleksi diri pada realitas masyarakat. Karena suatu penelitian tentang masalah sosial harus selalu dilakukan untuk memperbaiki situasi sosial yang ada dan meluruskan ketimpangan yang ada. Subyektifitas dalam penelitian ini lebih berdasarkan pada rasa simpati dan empati terhadap masyarakat yang diteliti serta adanya sebuah kesadaran bahwa masalah penelitian ini tidak dapat dipisahkan dari masalah evaluasi.
Jenis penelitian ini berupa penelitian evaluatif dengan cara menggali, memahami, menganalisis dan menyimpulkan serta menerapkan sehingga masayarakat yang diteliti mengalami perubahan sesuai dengan kehendak masyarakat sendiri (refleksi diri). Pilihan metode ini (evaluasi partisipatoris) akan sangat bermakna ke arah membebaskan dan membangun kesadaran masyarakat hanya bisa dikaitkan dengan suatu tindakan sosial yang partisipatoris (Fernandes dan Tandon, 1993: 19)
PRA DALAM APLIKASINYA
PRA adalah salah satu metode pendekatan yang tekanannya pada keterlibatan masyarakat dalam keseluruhan kegiatan. Pendekatan PRA memnag bercita-cita menjadikan warga masyarakat sebagai peneliti, perencana dan pelaksanaan program pembangunan dan bukan sekedar objek pembangunan.
Tantangannya adalah menemukan cara untuk mengalihkan proses dan ketrampilan penelitian dan perencanaan itu. Dengan demkian, warga masyarakat menjadi pelaku pengembangan alternatif pemecahan masalah, bukan sekedar ‘konsumen” pemecahan masalah yang dikembangkan di lembaga-lembaga riset.
PRA juga mencakup aspek penelitian, namun tekanan aspek ini bukan pada validitas ilmiah dari data yang diperoleh, namun lebih pada praktis penelitian itu sendiri, yaitu pengembangan program masyarakat.
PRA dieterjemahkan secra aharfiah berarti kira-kira penilaian atau pemahaman pedesaaan secara partisipatif. Menurut Robert Chambers PRA adalah merupakan metode dan pendekatan belajar mengenai kondisi dan kehidupan pedesaaan dari, dengan, oleh masyarakat pedesaaan sendiri. Pengertian belajar di sini adalah luas, yang meliputi : kegiatan menganalisis, merencanakan dan bertindak.
PRINSIP-PRINSIP PRA (studio Driya media untuk Konsorsium Pengembangan Dataran Tinggi Nusa Tenggara : 1994)
Ada beberapa prinsip-prinsip pelaksanaan kegiatan PRA, sebagaimana yang terangkum sebagai berikut (Disarikan dari Studio Driya media untuk Konsorsium Pengembangan Dataran Tinggi Nusa Tenggara : 1994) :
1. Belajar dari masyarakat
PRA dibangun pada pengakuan serta kepercayaan akan nilai dan relevansi pengetahuan tradisional masyarakat serta kemampuan masyrakat untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri.
2. Orang luar sebagai fasilitator, masyarakat sebagai pelaku
Konsekuensinya dari prinsip utama adalah perlunya “orang luar” menyadari perannya sebagai “fasilitator” dan bukannya sebagai pelaku, guru, penyuluh atau peneliti.
3. Saling belajar, saling berbagi pengalaman
Proses PRA adalah ajang dialog antara kedua system pengetahuan itu untuk melahirkan sesuatu yang lebih baik.
4. Keterlibatan semua kelompok masyarakat
Keterlibatan semua golongan masyarakat sangat penting. Golongan yang harus diperhatikan justru mereka yang paling sedikit memiliki akses dalam kehidupan sosial komunitasnya (golongan paling miskin, perempuan dan anaka-anak). Untuk identifikasi kelompok-kelompok masyarakat, melalui teknik pemetaan sosial atau penyusunan peringkat dengan matriks.
5. Santai dan informal
Kegiatan PRA dilakukan dalam suasana yang luwes, terbuka, tidak memaksa, informal dan suasana kekeluargaan. Situassi yang santai ini akan menimbulkan hubungan akrab, karena orang luar akan berproses untuk masuk sebagai anggota kelompok diskusi, bukan sebagai tamu asing yang oleh masyarakat harsu disambut dengan segala protokol.
6. Menghargai perbedaan
Masyarakat yang heterogen terdiri dari orang-orang yang akan memiliki pandangan probadai atau merupakan pandangan golongannya sendiri. Oleh karena itu, ada semangat yang harus dibina dalam melakukan PRA, yaitu semangat saling menghargai. Inti dari kegiatan PRA adalah mencoba melihat sejumlah variasi informasi dan masalah, bukan memberikan rata-rata hasil. Meskipun PRA juga memilih sampling sumber informasi, tetapi tidak dengan memeberikan nilai rata-rata secara metode statisktik. Jalankeluar dari permasalahan ini adalah dengan pengorganisasian masalah dan pengurutan prioritas masalah yang akan ditentukan oleh masyarakat sendiri sebagai pemiliknya
7. Triangulasi
Salah satu potensi PRA adalah usaha mengumpulkan dan menganalisa data secara sistematis bersama masyarakat. Usaha itu akan memanfaatkan berbagai sumber informasi yang ada. Namun kita tahu, tidak semua sumber informasi senantiasa bias dipercaya ketepatannya. Untuk mendapatkan informasi yang kedalamannya bias diandalkan kita bisa menggunakan triangulasi yang merupakan bentuk ‘pemeriksaan dan pemerikasaan ulang’ (check and recheck). Traingulasi ini dapat dilakukan antara lain melalui penganekaragaman sumber informasi (keragaman latar belakang golongan masyarakat, keragaman tempat dan variasi teknik).
8. Mengoptimalkan hasil
Salah satu masalah yang munncul dalam penerapan PRA sebagai metode yang relatif baru di kalangan lembaga-lembaga pengembangan masyarakat adalah “keterbatasan biaya”. Pelaksanaaan kegiatan PRA memerlukan waktu, tenaga nara sumber, pelaksana yang terampil dan partisipasi warga masayrakat yang keseluruhannya berkaitan dengan dana atau uang. Untuk mendayagunakan “biaya” dalam arti luas tersebut (personil yang terbatas, kekurangan waktu, jumlah dana yang tersedia dsb) untuk pelaksanaan kegiatan PRA yang memberi manfaat optimal dengan penggalian informasi yang akurat, tidak ada pilihan lain bagi kita selain mengoptimalkan hasild engan pilihan yang paling menguntungkan. Pilihan yang harus diambil menyangkut antara lain: kuantitas informasi dan kualitas atau akurasi informasi. Untuk melakukan pilihan dalam berbagai keterbatasan ini diperlukan sikap yang cermat dan realistis, jangan samapai kegiatan berskala terlalu besar dengan biaya yang tidak cukup.
9. Belajar dari kesalahan
PRA bukanlah suatu teknik tunggal yang telah selesai, sempurna dan pasti benar. Diharapkan bahwa teknik-teknik itu sennatiasa bisa dikembangkan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan setempat. Dengan demikian, melakukan kesalahan yang sering dianggap tidak wajar dalam PRA adalah sesuatu yang wajar. Yang penting bukanlah kesempurnaan dalam penerapan, yang tentu sukar dicapai, tetapi penerapan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan yang ada dan belajar dari kekurangan-kekurangan/kesalahan yang terjadi, agar kegiatan berikutnya menjadi lebih baik. Jadi, di sini PRA bukanlah “coba-coba” (trial and error) yang tanpa perhitungan kritis untuk meminimalkan kesalahan.
10. Orientasi praktis
PRA berorientasi praktis, yakni pemecahan masalah dan pengembangan program. Untuk itu dibutuhkan informasi yang relevan dan memadahi dan bukannya semua informasi yang bisa diperoleh tentang suatu hal. Yang diperlukan adalah pengetahuan yang optimal, tidak semua informasi perlu dicari dan digali dengan sedalam-dalamnya. PRA bukanlah kegiatan yang dilakukan demi PRA itu sendiri, melainkian kegiatan yang mencoba meningkatkan kualitas program kemasyarakatan yang sedang digarap atau yang baru akan dikembangkan.
11. Keberlanjutan dan selang waktu
Kepentingan-kepentingan dan masalah-masalah masyarakat tidaklah tetap, tetapi berubah dan bergeser menurut waktu sesuai dengan berbagai perubahan dan perkembangan baru dalam masyarakat itu sendiri. Karenanya, pengenalan masyarakat bukanlah suatu usaha yang sekali dilakukan kemudian selesai, namun merupakan suatu usaha berlanjut.
TEKNIK-TEKNIK PRA
Pengelompokkan teknik-teknik PRA yang sudah umum dalam kepustakaan adalah pengelompokkan menuruut jenis informasi yang dikumpulkan dan diolah dengan teknik itu. Adapun teknik-teknik PRA itu dikelompokkan ke dalam :
1. Teknik yang bersifat mengumpulkan informasi umum yang biasanya digunakan pada tahap awal pengembangan program dan bersifat penjajagan (eksploratif)
2. Teknik-teknik yang berkaitan dengan tata ruang (spatial)
3. Teknik-teknik yang berkaitan dengan waktu (temporal)
4. Teknik-teknik yang berkaitan dengan kelembagaan (institutional )
5. Teknik-teknik yang berkaitan dengan aspek-aspek kemasyarakatan (sosial)
6. Teknik-teknik yang berkaitan dengan aspek-aspek ekonomi dan mata pencaharian
7. Teknik-teknik yang berkaitan dengan aspek-aspek teknis tertentu (topical/teknikal) seperti tentang hama dan penyakit tanaman, kesehatan.
Pengelompokkan teknik-teknik PRA dapat juga dikelompokkan menurut cara analisisnya. Misalnya teknik-teknik yang bersifat menggambarkan (deskriptif), menganalisis (eksplanasi/menjelaskan) baik itu dengan mengurutkan, membandingkan, menyusun peringkat dan mencari sebab akibat dan teknik-teknik untuk membuat perencanaan atau pengujian alternatif kegiatan (preskripsi).
Sebenarnya, kita tidak perlu mempersoalkan masalah tersebut, sebab pengelompokkan biasanya dimaksudkan untuk mempermudah kita menetapkan teknik yang paling cocok untuk tujuan penggalian informasi tertentu. Yang paling penting adalah kemampuan kita untuk memahami masing-masing teknik yang ada dan memahami masing-masing teknik yang ada dan memilih penggunaannya sesuai dengan keperluan tersebut. Bahkan, tumpang tindih itu sesungguhnya baik, karena diperolehnya informasi yang sama atau berhubungan melalui teknik-teknik yang berbeda akan membantu kita dalam mengkaji ulang ketepatan informasi itu (fungsi traingulasi).
HAL-HAL YANG PERLU DISIAPKAN DALAM PELAKSANAAN PRA:
1. PERSIAPAN SEBELUM KE LAPANGAN
a. Penyiapan diri atau pengenalan serta orientasi diri, yang meliputi:
Pengenalan medan, kesiapan diri, adaptasi diri dengan memahami social budaya rakyat, pendekatan sosail dengan para tokoh kunci yang berpengaruh dalam masyarakat serta menemukan dan memantapkan metode dan cara pendekatan ke masyarakat
b. Koordinasi team
Perlunya sebuah team yang kompak dan solid. Oleh karena itu perlu adanya job deskripsi yang jelas antar anggota team.
2. PERSIAPAN SELAMA DI LAPANGAN
a. melebur dengan masyarakat dengan cara melakukan kunjungan awal dan pengakraban diri dengan masyarakat. Tujuan dari kegiatan ini adalah antara lain:
membangun kepercayaan dengan masyarakat
memperoleh informasi awal
membangun kontak person
menjalin pertemanan
Memberitahukan kedatangan
Terlibat sebagai pendengar
Terlibat aktif dalam diskusi
Ikut bekerja bersama-sama
b. Penerapan PRA
Kegiatan ini bertujuan untuk penggalian data primer dan sekunder, analisa social, dokumentasi (atas proses-proses yang berlangsung)
c. Merancang kegiatan awal, dilakukan dengan cara:
Mengumpulkan isu
musyawarah bersama (FGD)
Identifikasi masalah dan potensi
Menentukan agenda bersama
Dokumentasi proses
d. Implementasi kegiatan (Rencana Tindak Lanjut)
REFERENSI:
Chambers, Robert , 1996. PRA (Participatory Rural Appraisal) Memahami Desa Secara Partisipatif, penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Darusman, Taryono , 2001. Pengalaman Belajar : Praktek Pengorgansiasisan Masyarakat di Simpul Belajar , Yayasan Puter, Bogor.
Fernandes, Walter, 1993. Riset Partisipatoris – RISET PEMBEBASAN, Gramedia, Yogyakarta.
Studio Driya Media Untuk Konsorsium Pengembangan Dataran Tinggi Nusa Tenggara, 1994. Participatory Rural Appraisal, Berbuat Bersama Berperan Bersama
Metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa metode Partispatoris (Riset Partisipatoris), yaitu suatu metode yang dilakukan secara bersama dan didasari oleh logika emansipatoris-partispatoris. Dimana pada penelitian ini menerapkan masyarakat sebagai subyek penelitian.
Prinsip-prinsip yang secara umum dilakukan dalam penelitian Partisipatoris (Chambers, 1996:34) :
1) suatu pembalikan pemahaman, belajar dari masyarakat desa, secara langsung, pada daerah pinggiran, berhadapan secara langsung, mendapatkan pengetahuan fisik, teknis, dan sosial secara lokal.
2) Belajar secara cepat dan progresif, melalui eksplorasi yang terencana, pemakaian metode yang fleksibel, improvisasi, iterasi atau pengulangan. Serta check silang, tidak mengikuti program cetak biru tetapi lebih bersifat dapat menyesuaikan dengan proses belajar atau pemahaman.
3) Menyeimbangkan bias, khususnya bagi wisata pengembangan pedesaan, rileks dan tidak tergesa-gesa, mendengarkan dan bukan menggurui, penggalian topik, tidak memaksakan dan mencari masyarakat yang lebih miskin serta memahami prioritas dan pokok perhatian mereka.
4) Optimalisasi pertukaran, mengaitkan biaya pemahaman dengan informasi yang benar-benar bermanfaat, dengan pertukaran antar kuantitas, kegayutan, keakuratan serta ketepatan waktu. Ini termasuk prinsip-prinsip pengabaian optimal- mengetahui apa yang tidak perlu diketahui dan mengetahui ketidakakuratan-tidak melakukan pengukuran melebihi dari yang diperlukan.
5) Membuat jaringan titik-titik pengukuran, dapat diartikan sebagai penggunaan suatu kisaran (kadang-kadang tiga) yang terdiri dari metode, jenis informasi, peneliti dan atau disiplin untuk pengecekan silang.
6) Mencari keanekaragaman,maksudnya adalah mencari hal yang berbeda-beda dari pada rata-rata.
7) Pemberian fasilitas, artinya memberikan fasilitas penyelidikan, analisis, penyajian dan pemahaman oleh masyarakat desa itu sendiri, sehingga mereka dapat menyajikan dan memiliki hasilnya dan juga mempelajarinya.
8) Adanya kesadaran dan tanggungjawab yang diri yang kritis, artinya fasilitator secara terus-menerus menguji tingkah laku mereka dan mencoba melakukannya secara lebih baik. Ini termasuk merangkul kesalahan- menerima kesalahan sebagai suatu kesempatan untuk belajar melakukan yang lebih baik dan setiap saat menggunakan penilaian orang yang paling baik, yang berarti dapat menerima tanggungjawab diri.
9) Saling berbagi informasi dan gagasan antar masyarakat desa, antar masyarakat desa dengan fasilitator dan antar fasilitator yang berbeda serta saling berbagi wilayah kegiatan, pelatihan dan pengalaman antar organisasi yang berbeda.
Metode penelitian ini merupakan satu pendekatan abduksi dan alternatif, di mana penelitian dan metode yang dilakukan dengan dasar kritik sosial pada realitas sehingga lebih berwujud kritik sosial, evaluasi dan refleksi diri pada realitas masyarakat. Karena suatu penelitian tentang masalah sosial harus selalu dilakukan untuk memperbaiki situasi sosial yang ada dan meluruskan ketimpangan yang ada. Subyektifitas dalam penelitian ini lebih berdasarkan pada rasa simpati dan empati terhadap masyarakat yang diteliti serta adanya sebuah kesadaran bahwa masalah penelitian ini tidak dapat dipisahkan dari masalah evaluasi.
Jenis penelitian ini berupa penelitian evaluatif dengan cara menggali, memahami, menganalisis dan menyimpulkan serta menerapkan sehingga masayarakat yang diteliti mengalami perubahan sesuai dengan kehendak masyarakat sendiri (refleksi diri). Pilihan metode ini (evaluasi partisipatoris) akan sangat bermakna ke arah membebaskan dan membangun kesadaran masyarakat hanya bisa dikaitkan dengan suatu tindakan sosial yang partisipatoris (Fernandes dan Tandon, 1993: 19)
PRA DALAM APLIKASINYA
PRA adalah salah satu metode pendekatan yang tekanannya pada keterlibatan masyarakat dalam keseluruhan kegiatan. Pendekatan PRA memnag bercita-cita menjadikan warga masyarakat sebagai peneliti, perencana dan pelaksanaan program pembangunan dan bukan sekedar objek pembangunan.
Tantangannya adalah menemukan cara untuk mengalihkan proses dan ketrampilan penelitian dan perencanaan itu. Dengan demkian, warga masyarakat menjadi pelaku pengembangan alternatif pemecahan masalah, bukan sekedar ‘konsumen” pemecahan masalah yang dikembangkan di lembaga-lembaga riset.
PRA juga mencakup aspek penelitian, namun tekanan aspek ini bukan pada validitas ilmiah dari data yang diperoleh, namun lebih pada praktis penelitian itu sendiri, yaitu pengembangan program masyarakat.
PRA dieterjemahkan secra aharfiah berarti kira-kira penilaian atau pemahaman pedesaaan secara partisipatif. Menurut Robert Chambers PRA adalah merupakan metode dan pendekatan belajar mengenai kondisi dan kehidupan pedesaaan dari, dengan, oleh masyarakat pedesaaan sendiri. Pengertian belajar di sini adalah luas, yang meliputi : kegiatan menganalisis, merencanakan dan bertindak.
PRINSIP-PRINSIP PRA (studio Driya media untuk Konsorsium Pengembangan Dataran Tinggi Nusa Tenggara : 1994)
Ada beberapa prinsip-prinsip pelaksanaan kegiatan PRA, sebagaimana yang terangkum sebagai berikut (Disarikan dari Studio Driya media untuk Konsorsium Pengembangan Dataran Tinggi Nusa Tenggara : 1994) :
1. Belajar dari masyarakat
PRA dibangun pada pengakuan serta kepercayaan akan nilai dan relevansi pengetahuan tradisional masyarakat serta kemampuan masyrakat untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri.
2. Orang luar sebagai fasilitator, masyarakat sebagai pelaku
Konsekuensinya dari prinsip utama adalah perlunya “orang luar” menyadari perannya sebagai “fasilitator” dan bukannya sebagai pelaku, guru, penyuluh atau peneliti.
3. Saling belajar, saling berbagi pengalaman
Proses PRA adalah ajang dialog antara kedua system pengetahuan itu untuk melahirkan sesuatu yang lebih baik.
4. Keterlibatan semua kelompok masyarakat
Keterlibatan semua golongan masyarakat sangat penting. Golongan yang harus diperhatikan justru mereka yang paling sedikit memiliki akses dalam kehidupan sosial komunitasnya (golongan paling miskin, perempuan dan anaka-anak). Untuk identifikasi kelompok-kelompok masyarakat, melalui teknik pemetaan sosial atau penyusunan peringkat dengan matriks.
5. Santai dan informal
Kegiatan PRA dilakukan dalam suasana yang luwes, terbuka, tidak memaksa, informal dan suasana kekeluargaan. Situassi yang santai ini akan menimbulkan hubungan akrab, karena orang luar akan berproses untuk masuk sebagai anggota kelompok diskusi, bukan sebagai tamu asing yang oleh masyarakat harsu disambut dengan segala protokol.
6. Menghargai perbedaan
Masyarakat yang heterogen terdiri dari orang-orang yang akan memiliki pandangan probadai atau merupakan pandangan golongannya sendiri. Oleh karena itu, ada semangat yang harus dibina dalam melakukan PRA, yaitu semangat saling menghargai. Inti dari kegiatan PRA adalah mencoba melihat sejumlah variasi informasi dan masalah, bukan memberikan rata-rata hasil. Meskipun PRA juga memilih sampling sumber informasi, tetapi tidak dengan memeberikan nilai rata-rata secara metode statisktik. Jalankeluar dari permasalahan ini adalah dengan pengorganisasian masalah dan pengurutan prioritas masalah yang akan ditentukan oleh masyarakat sendiri sebagai pemiliknya
7. Triangulasi
Salah satu potensi PRA adalah usaha mengumpulkan dan menganalisa data secara sistematis bersama masyarakat. Usaha itu akan memanfaatkan berbagai sumber informasi yang ada. Namun kita tahu, tidak semua sumber informasi senantiasa bias dipercaya ketepatannya. Untuk mendapatkan informasi yang kedalamannya bias diandalkan kita bisa menggunakan triangulasi yang merupakan bentuk ‘pemeriksaan dan pemerikasaan ulang’ (check and recheck). Traingulasi ini dapat dilakukan antara lain melalui penganekaragaman sumber informasi (keragaman latar belakang golongan masyarakat, keragaman tempat dan variasi teknik).
8. Mengoptimalkan hasil
Salah satu masalah yang munncul dalam penerapan PRA sebagai metode yang relatif baru di kalangan lembaga-lembaga pengembangan masyarakat adalah “keterbatasan biaya”. Pelaksanaaan kegiatan PRA memerlukan waktu, tenaga nara sumber, pelaksana yang terampil dan partisipasi warga masayrakat yang keseluruhannya berkaitan dengan dana atau uang. Untuk mendayagunakan “biaya” dalam arti luas tersebut (personil yang terbatas, kekurangan waktu, jumlah dana yang tersedia dsb) untuk pelaksanaan kegiatan PRA yang memberi manfaat optimal dengan penggalian informasi yang akurat, tidak ada pilihan lain bagi kita selain mengoptimalkan hasild engan pilihan yang paling menguntungkan. Pilihan yang harus diambil menyangkut antara lain: kuantitas informasi dan kualitas atau akurasi informasi. Untuk melakukan pilihan dalam berbagai keterbatasan ini diperlukan sikap yang cermat dan realistis, jangan samapai kegiatan berskala terlalu besar dengan biaya yang tidak cukup.
9. Belajar dari kesalahan
PRA bukanlah suatu teknik tunggal yang telah selesai, sempurna dan pasti benar. Diharapkan bahwa teknik-teknik itu sennatiasa bisa dikembangkan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan setempat. Dengan demikian, melakukan kesalahan yang sering dianggap tidak wajar dalam PRA adalah sesuatu yang wajar. Yang penting bukanlah kesempurnaan dalam penerapan, yang tentu sukar dicapai, tetapi penerapan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan yang ada dan belajar dari kekurangan-kekurangan/kesalahan yang terjadi, agar kegiatan berikutnya menjadi lebih baik. Jadi, di sini PRA bukanlah “coba-coba” (trial and error) yang tanpa perhitungan kritis untuk meminimalkan kesalahan.
10. Orientasi praktis
PRA berorientasi praktis, yakni pemecahan masalah dan pengembangan program. Untuk itu dibutuhkan informasi yang relevan dan memadahi dan bukannya semua informasi yang bisa diperoleh tentang suatu hal. Yang diperlukan adalah pengetahuan yang optimal, tidak semua informasi perlu dicari dan digali dengan sedalam-dalamnya. PRA bukanlah kegiatan yang dilakukan demi PRA itu sendiri, melainkian kegiatan yang mencoba meningkatkan kualitas program kemasyarakatan yang sedang digarap atau yang baru akan dikembangkan.
11. Keberlanjutan dan selang waktu
Kepentingan-kepentingan dan masalah-masalah masyarakat tidaklah tetap, tetapi berubah dan bergeser menurut waktu sesuai dengan berbagai perubahan dan perkembangan baru dalam masyarakat itu sendiri. Karenanya, pengenalan masyarakat bukanlah suatu usaha yang sekali dilakukan kemudian selesai, namun merupakan suatu usaha berlanjut.
TEKNIK-TEKNIK PRA
Pengelompokkan teknik-teknik PRA yang sudah umum dalam kepustakaan adalah pengelompokkan menuruut jenis informasi yang dikumpulkan dan diolah dengan teknik itu. Adapun teknik-teknik PRA itu dikelompokkan ke dalam :
1. Teknik yang bersifat mengumpulkan informasi umum yang biasanya digunakan pada tahap awal pengembangan program dan bersifat penjajagan (eksploratif)
2. Teknik-teknik yang berkaitan dengan tata ruang (spatial)
3. Teknik-teknik yang berkaitan dengan waktu (temporal)
4. Teknik-teknik yang berkaitan dengan kelembagaan (institutional )
5. Teknik-teknik yang berkaitan dengan aspek-aspek kemasyarakatan (sosial)
6. Teknik-teknik yang berkaitan dengan aspek-aspek ekonomi dan mata pencaharian
7. Teknik-teknik yang berkaitan dengan aspek-aspek teknis tertentu (topical/teknikal) seperti tentang hama dan penyakit tanaman, kesehatan.
Pengelompokkan teknik-teknik PRA dapat juga dikelompokkan menurut cara analisisnya. Misalnya teknik-teknik yang bersifat menggambarkan (deskriptif), menganalisis (eksplanasi/menjelaskan) baik itu dengan mengurutkan, membandingkan, menyusun peringkat dan mencari sebab akibat dan teknik-teknik untuk membuat perencanaan atau pengujian alternatif kegiatan (preskripsi).
Sebenarnya, kita tidak perlu mempersoalkan masalah tersebut, sebab pengelompokkan biasanya dimaksudkan untuk mempermudah kita menetapkan teknik yang paling cocok untuk tujuan penggalian informasi tertentu. Yang paling penting adalah kemampuan kita untuk memahami masing-masing teknik yang ada dan memahami masing-masing teknik yang ada dan memilih penggunaannya sesuai dengan keperluan tersebut. Bahkan, tumpang tindih itu sesungguhnya baik, karena diperolehnya informasi yang sama atau berhubungan melalui teknik-teknik yang berbeda akan membantu kita dalam mengkaji ulang ketepatan informasi itu (fungsi traingulasi).
HAL-HAL YANG PERLU DISIAPKAN DALAM PELAKSANAAN PRA:
1. PERSIAPAN SEBELUM KE LAPANGAN
a. Penyiapan diri atau pengenalan serta orientasi diri, yang meliputi:
Pengenalan medan, kesiapan diri, adaptasi diri dengan memahami social budaya rakyat, pendekatan sosail dengan para tokoh kunci yang berpengaruh dalam masyarakat serta menemukan dan memantapkan metode dan cara pendekatan ke masyarakat
b. Koordinasi team
Perlunya sebuah team yang kompak dan solid. Oleh karena itu perlu adanya job deskripsi yang jelas antar anggota team.
2. PERSIAPAN SELAMA DI LAPANGAN
a. melebur dengan masyarakat dengan cara melakukan kunjungan awal dan pengakraban diri dengan masyarakat. Tujuan dari kegiatan ini adalah antara lain:
membangun kepercayaan dengan masyarakat
memperoleh informasi awal
membangun kontak person
menjalin pertemanan
Memberitahukan kedatangan
Terlibat sebagai pendengar
Terlibat aktif dalam diskusi
Ikut bekerja bersama-sama
b. Penerapan PRA
Kegiatan ini bertujuan untuk penggalian data primer dan sekunder, analisa social, dokumentasi (atas proses-proses yang berlangsung)
c. Merancang kegiatan awal, dilakukan dengan cara:
Mengumpulkan isu
musyawarah bersama (FGD)
Identifikasi masalah dan potensi
Menentukan agenda bersama
Dokumentasi proses
d. Implementasi kegiatan (Rencana Tindak Lanjut)
REFERENSI:
Chambers, Robert , 1996. PRA (Participatory Rural Appraisal) Memahami Desa Secara Partisipatif, penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Darusman, Taryono , 2001. Pengalaman Belajar : Praktek Pengorgansiasisan Masyarakat di Simpul Belajar , Yayasan Puter, Bogor.
Fernandes, Walter, 1993. Riset Partisipatoris – RISET PEMBEBASAN, Gramedia, Yogyakarta.
Studio Driya Media Untuk Konsorsium Pengembangan Dataran Tinggi Nusa Tenggara, 1994. Participatory Rural Appraisal, Berbuat Bersama Berperan Bersama
alhamdulillah...
Minggu ini ada kabar bagus buatku... Aku yang posisinya diajak riset bareng temen2ku yaitu Mbak erika (riset tentang E learning ) dan Ambar (riset tentang facebook ) , proposal kami dinyatakan layak untuk mengikuti tahapan selanjutnya di Jakarta. Yaitu presentasi mengenai proposal kami. aku meras senang terlibat dalam dua team riset tersebut. Tanggal 21 juni 2010 ambar akan presnetasi di Jakarta. semnetara tgl 24 juni 2010 aku dan mbak erika akan presnetasi di jakarta. Semoga pada tahap ini, kami bisa lolos. Amien...
Berita bagus kedua adalah, aku ditawari oleh temenku, mas syarif untuk memberikan kata pengantar editor dalam buku beliau yang baru .Historiografi Muhamamdiyah Bima. Ini adalah pengalaman pertama buatku memberikan kata pengantar. Alhamdulillah, tadi sudah kuemail kata pengantar yang kubuat 4 halaman tersebut.
Robb.... aku meras bersyukur punya temen2 yang baik, yang sellau memberikan motivasi untuk maju kepadaku. terima kasih Tuhan... Tuk mbak erika, ambar dan mas syarif, terima kasih banyak atas segala supprotnya dan menjadikan diriku masuk dalam team ini....
Berita bagus ketiga adalah skore toeflku naik sedikit. ALhamdulillah , meski harus ikut ujian lagi... aku tetep optimis bisa mencapai skore standart. kemarin kucek di pusat bahasa Ugm, skore sementara sampai ujian yang kelima ini adalah 467. Masih ada 33 skore lagi yang harus kukejar... Bismillah... aku selalu berdoda dan berusaha semoga bisa kuraih skore standar 500...
Berita bagus keempat adalah, anakku tyo, besok sudah naik kelas di TK Nol besar. yah, meski masih dalam tarf sosialisasi buat tyo, tapi aku selalu mensyukuri atas segala progress yang ada dalam diri anakku.Alhamdulillah tyo tumbuh jadi anak yang cerdas, riang dan selalu happy.
Ehm... the last...but not least adalah suamiku selalu bertambah supportnya untuk diriku. Dan Puji syukur yang mendalam adalah, keluargaku dalam kondisi sehat. Diriku, suamku, anakku, ibuk bapakku , ibuk bapak mertua dan saudara semua sehat. Alhamdulillah.... Teirima kasih banyak Robb atas segala curahan nikmat_Mu ini....
Berita bagus kedua adalah, aku ditawari oleh temenku, mas syarif untuk memberikan kata pengantar editor dalam buku beliau yang baru .Historiografi Muhamamdiyah Bima. Ini adalah pengalaman pertama buatku memberikan kata pengantar. Alhamdulillah, tadi sudah kuemail kata pengantar yang kubuat 4 halaman tersebut.
Robb.... aku meras bersyukur punya temen2 yang baik, yang sellau memberikan motivasi untuk maju kepadaku. terima kasih Tuhan... Tuk mbak erika, ambar dan mas syarif, terima kasih banyak atas segala supprotnya dan menjadikan diriku masuk dalam team ini....
Berita bagus ketiga adalah skore toeflku naik sedikit. ALhamdulillah , meski harus ikut ujian lagi... aku tetep optimis bisa mencapai skore standart. kemarin kucek di pusat bahasa Ugm, skore sementara sampai ujian yang kelima ini adalah 467. Masih ada 33 skore lagi yang harus kukejar... Bismillah... aku selalu berdoda dan berusaha semoga bisa kuraih skore standar 500...
Berita bagus keempat adalah, anakku tyo, besok sudah naik kelas di TK Nol besar. yah, meski masih dalam tarf sosialisasi buat tyo, tapi aku selalu mensyukuri atas segala progress yang ada dalam diri anakku.Alhamdulillah tyo tumbuh jadi anak yang cerdas, riang dan selalu happy.
Ehm... the last...but not least adalah suamiku selalu bertambah supportnya untuk diriku. Dan Puji syukur yang mendalam adalah, keluargaku dalam kondisi sehat. Diriku, suamku, anakku, ibuk bapakku , ibuk bapak mertua dan saudara semua sehat. Alhamdulillah.... Teirima kasih banyak Robb atas segala curahan nikmat_Mu ini....
Kamis, 03 Juni 2010
Anakku lanang
Alhamdulillah ya Allah... Tyo, anakku lanang tumbuh menjadi anak yang sehat, periang dan cerdas. Ada saja sikap dan ungkapan2 dari anankku lanang yang membuatku sering terkaget2. Subhanalloh..!!! Tyo sangat kritis sekali setiap kali aku menceritakan sesuatu. Tyo akan selalu mencerna dengan baik dari cerita2ku, entah itu dari buku atau apa yang aku sampaikan dari pengalamanku. Kemudian, tyo akan merangkum cerita itu, dan menanyakan pada kesempatan lain dengan tema2 yang hampir sama dengan setting ceritaku. Misal : Buk, dulu waku ada gempa, aku masih di perut ibu ya? Buk, Allah itu dimana? Apakah Allah punya tangan, kaki dsb ?
Oh, tyo... aku bangga dengan setiap progress darimu nak. Terima kasih Allah, atas segala karunia-Mu yang tiada terhingga ini. Semoga diirku bisa selalu menjadi ibuk yang terbaik buat anakku... Amien... I Love U so much my Tyo..
SEMANGAT....
4 Juni 2010.... kumulai lagi menata asaku. Yup, Harus selalu semangat dan optimis menghadapi setiap ujian yang ada dalam hidupku. karena kuyakin, Robbku akan menolongku.
Untuk dua bulan mendatang, aku harus ekstra keras lagi untuk belajar. Aku harus bisa memanage waktu dengan baik.Aku gak mau menyia2kan kepercayaan yang telah diberikan kepadaku. Terutama kepercayaan dan dukungan yang diberikan oleh orang2 dekatku, suamiku, anakku lanang ( TYO) ibuk and bapakku. Robb, tetapkanlah hatiku untuk selalu tertaut pada-Mu... Robb, semoga hari2ku semakin baik .. Ringankanlah langkah2ku menuju Ridho-Mu. Amien..
Selasa, 25 Mei 2010
INDUSTRIALISASI DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI PETANI
INDUSTRIALISASI DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI PETANI
Sulistyaningsih
Abstrak
Industrialization existence for Indonesia, one of developing countries is strategy choise in economic based development’s model. The choise of industrialization policy effects toward the dynamic of agriculture industrialization in village. One aspect, It has made the national of economy growth increase , but beside that it has made the gap deeply especially in agriculture sector. The condition of agriculture industrialization, especially agriculture has been marginalized by the state of policies that is not incline toward farmer. Agriculture sector has been cooptatited and hegemoniesed . This experience has gave price lesson learned for Indonesia, that model of development policy that has mainstreaming economy growth through industrialization based on community. The model of development is called Community based development. In this model of development, economy empowerment and farmer movement is a keniscayaan.
Kata kunci : Industrialisasi, Permberdayaan Ekonomi, Gerakan Petani
Sulistyaningsih
Abstrak
Industrialization existence for Indonesia, one of developing countries is strategy choise in economic based development’s model. The choise of industrialization policy effects toward the dynamic of agriculture industrialization in village. One aspect, It has made the national of economy growth increase , but beside that it has made the gap deeply especially in agriculture sector. The condition of agriculture industrialization, especially agriculture has been marginalized by the state of policies that is not incline toward farmer. Agriculture sector has been cooptatited and hegemoniesed . This experience has gave price lesson learned for Indonesia, that model of development policy that has mainstreaming economy growth through industrialization based on community. The model of development is called Community based development. In this model of development, economy empowerment and farmer movement is a keniscayaan.
Kata kunci : Industrialisasi, Permberdayaan Ekonomi, Gerakan Petani
PENGUATAN KELEMBAGAAN LOKAL DALAM SERTIFIKASI
PENGUATAN KELEMBAGAAN LOKAL DALAM SERTIFIKASI
HUTAN RAKYAT
( Kasus di Kabupaten Gunung Kidul , Yogyakarta )
Oleh Sulistyaningsih
Abstrak
The existence of people forest in Java was marginalized for a long time has changed. It was happened after state deforestation in Java . It can be shown by people forest in Gunung Kidul District,Yogyakarta. The people forest has gotten sertification strenghten the legitimation of real people role in forest management. In this context is needed local institution strenghten. The strong local institution is hoped to become social capital for community in people forest management . It makes farmers of people forest have strong and high bargaining posistion toward market intervention. But, in this case, state role in market intervention become important factor too. State must give protection toward the farmers of people forest.
Keywords: hutan rakyat, sertifikasi, kelembagaan lokal
HUTAN RAKYAT
( Kasus di Kabupaten Gunung Kidul , Yogyakarta )
Oleh Sulistyaningsih
Abstrak
The existence of people forest in Java was marginalized for a long time has changed. It was happened after state deforestation in Java . It can be shown by people forest in Gunung Kidul District,Yogyakarta. The people forest has gotten sertification strenghten the legitimation of real people role in forest management. In this context is needed local institution strenghten. The strong local institution is hoped to become social capital for community in people forest management . It makes farmers of people forest have strong and high bargaining posistion toward market intervention. But, in this case, state role in market intervention become important factor too. State must give protection toward the farmers of people forest.
Keywords: hutan rakyat, sertifikasi, kelembagaan lokal
Local knowledge Based Resistance
Local knowledge based resistance
( A Sociological study about Forest Farmer “MR Mozaik” in Temulus Village, Blora District , Central Java Province, Indonesia )
By Sulistyaningsih
Abstract
Stated based forest management through Perum Perhutani which does not involve forest village community has a lot of problem, social, ecomic and ecological aspects. It has an implication in deforestation deeply .
According to multistakeholder, Community Based Forest Management approach is an alternative solution to solve this forest degradation problem.
Forest Village Community in Temulus Randublatung, Blora district is one of forest village community iniciative to rebuild the forest around them . With Community Based Forest Management in RPH Kedung Sambi, KPH Randublatung could also be considered . Its model which called as MR Mozaik is one of local knowledge based resistance form having practiced by forest peasant. Local knowledge in this context is related with the way of forest village community to survive. It reflects in their interaction with forest around them. .
This resistance is a form of positive resistance that drive to social and economic change. At the first time, MR mozaik model was expected as an solution model of conflict between Perum Perhutani and forest village community. For its growth, eventually MR Mozaik forest peasant resistance is still happened .
The research aims were to find out why resistance of MR Mozaik peasants was still going on and how the forms resistance also how resistance managed through the local knowledge of peasants. Related to the theoretical framework in this research, It is used as a means of analysis is that the theory is applied, in the context of this theory is related to the local knowledge and the resistance of forest peasant
To answer problems related local knowledge based resistance is used qualitative research method. This method is used with the consideration, it will be easier when dealing with research in a new reality or double reality in the field. Then, with qualitative method, the relationship between researcher with more familiar and closer, so it can obtain data directly over the depth. To further enhance and enrich the data, in this research also used ethnographic research methods. With this method, the researchers not only learn about the community, but more than that is learning from the community
Collecting data is done with the practice in two ways, namely collecting primary data through observation and interviews and secondary data by using documents or literature related to the topic of this research. Analized unit is all member in MR Mozaik forest peasant group in Temulus. This sample is purposed sample, namely : member and board involved in MR Mozaik forest peasant group . For data processing, data collected in qualitative analysis also on going process, the qualitative data analysis effort is repetitive and on going also of course with the ethnographic method .
Result of this research can be summarized that MR mozaik forest peasant through local knowledge has done resistance reference to Scott is called everyday resistance. Resistance was done by forest peasant was not only subsistance economic reason, but it also related the history of their land . Beside that this research also found there is antipathy forest peasant toward Perum Perhutani. In this context it is related to an altrusitic and nonmaterial reason.
The conclusion of this research is : Local knowledge based resistance can actually be managed optimally in the sense referred to the forms of positive resistance. End of the estuary, from this process is to find the alternative model in the management of forest resource really has changed aspects of the socio cultural and forest village community accommodate various interests. Having forest peasants’s the local knowledge, should be understood by all parties (multistakeholder) as one of social capital for forest village community. It is expected to be enough ammunition for forest villlage community means to encourage the change process in their level.
target 2011
2011.... aku sangat berharap, aku bisa memenuhi salah satu target dalam hidupku... semoga di 2011, sekolahku besok sudah kelar... Amien... Robb, bantulah hamba-Mu ini, mudahkanlah setiap urusanku... Amien...
Bersyukur
Bismillah.... Robb, kuharap, aku bisa menjadi hamba-Mu yang pandai bersyukur atas segala karunia dan nikmat-Mu yang Maha Luas. Aku menyadari betapa Engkau selalu menyayangiku dan keluargaku.
Robb, dengan amanah-Mu ini, aku berharap aku bisa selalu dekat dengan-Mu. Robb, ingatkanlah diriku jika aku lalai pada-Mu..
nyoba mulai ngeblog lagi
Selasa, 25 mei 2010 nyoba ngeblog lagi. 2 tahun yang lalu sudah pernah buat blog, tapi sudah lama gak difungsikan akhirnya sampe lupa username and passwordnya. Semoga blog yang ketiga ini bisa aku gunakan semaksimal mungkin... I hope so
Langganan:
Komentar (Atom)