“Datanglah kepada rakyat, hiduplah bersama mereka, belajarlah dari mereka, cintailah mereka, mulailah dari apa yang mereka tahu, bangunlah dari apa yang mereka punyai, tetapi pendamping yang baik adalah ketika pekerjaan selesai dan tugas dirampungkan, rakyat berkata : Kami sendirilah yang mengerjakannya”
Metode yang digunakan dalam penelitian ini berupa metode Partispatoris (Riset Partisipatoris), yaitu suatu metode yang dilakukan secara bersama dan didasari oleh logika emansipatoris-partispatoris. Dimana pada penelitian ini menerapkan masyarakat sebagai subyek penelitian.
Prinsip-prinsip yang secara umum dilakukan dalam penelitian Partisipatoris (Chambers, 1996:34) :
1) suatu pembalikan pemahaman, belajar dari masyarakat desa, secara langsung, pada daerah pinggiran, berhadapan secara langsung, mendapatkan pengetahuan fisik, teknis, dan sosial secara lokal.
2) Belajar secara cepat dan progresif, melalui eksplorasi yang terencana, pemakaian metode yang fleksibel, improvisasi, iterasi atau pengulangan. Serta check silang, tidak mengikuti program cetak biru tetapi lebih bersifat dapat menyesuaikan dengan proses belajar atau pemahaman.
3) Menyeimbangkan bias, khususnya bagi wisata pengembangan pedesaan, rileks dan tidak tergesa-gesa, mendengarkan dan bukan menggurui, penggalian topik, tidak memaksakan dan mencari masyarakat yang lebih miskin serta memahami prioritas dan pokok perhatian mereka.
4) Optimalisasi pertukaran, mengaitkan biaya pemahaman dengan informasi yang benar-benar bermanfaat, dengan pertukaran antar kuantitas, kegayutan, keakuratan serta ketepatan waktu. Ini termasuk prinsip-prinsip pengabaian optimal- mengetahui apa yang tidak perlu diketahui dan mengetahui ketidakakuratan-tidak melakukan pengukuran melebihi dari yang diperlukan.
5) Membuat jaringan titik-titik pengukuran, dapat diartikan sebagai penggunaan suatu kisaran (kadang-kadang tiga) yang terdiri dari metode, jenis informasi, peneliti dan atau disiplin untuk pengecekan silang.
6) Mencari keanekaragaman,maksudnya adalah mencari hal yang berbeda-beda dari pada rata-rata.
7) Pemberian fasilitas, artinya memberikan fasilitas penyelidikan, analisis, penyajian dan pemahaman oleh masyarakat desa itu sendiri, sehingga mereka dapat menyajikan dan memiliki hasilnya dan juga mempelajarinya.
8) Adanya kesadaran dan tanggungjawab yang diri yang kritis, artinya fasilitator secara terus-menerus menguji tingkah laku mereka dan mencoba melakukannya secara lebih baik. Ini termasuk merangkul kesalahan- menerima kesalahan sebagai suatu kesempatan untuk belajar melakukan yang lebih baik dan setiap saat menggunakan penilaian orang yang paling baik, yang berarti dapat menerima tanggungjawab diri.
9) Saling berbagi informasi dan gagasan antar masyarakat desa, antar masyarakat desa dengan fasilitator dan antar fasilitator yang berbeda serta saling berbagi wilayah kegiatan, pelatihan dan pengalaman antar organisasi yang berbeda.
Metode penelitian ini merupakan satu pendekatan abduksi dan alternatif, di mana penelitian dan metode yang dilakukan dengan dasar kritik sosial pada realitas sehingga lebih berwujud kritik sosial, evaluasi dan refleksi diri pada realitas masyarakat. Karena suatu penelitian tentang masalah sosial harus selalu dilakukan untuk memperbaiki situasi sosial yang ada dan meluruskan ketimpangan yang ada. Subyektifitas dalam penelitian ini lebih berdasarkan pada rasa simpati dan empati terhadap masyarakat yang diteliti serta adanya sebuah kesadaran bahwa masalah penelitian ini tidak dapat dipisahkan dari masalah evaluasi.
Jenis penelitian ini berupa penelitian evaluatif dengan cara menggali, memahami, menganalisis dan menyimpulkan serta menerapkan sehingga masayarakat yang diteliti mengalami perubahan sesuai dengan kehendak masyarakat sendiri (refleksi diri). Pilihan metode ini (evaluasi partisipatoris) akan sangat bermakna ke arah membebaskan dan membangun kesadaran masyarakat hanya bisa dikaitkan dengan suatu tindakan sosial yang partisipatoris (Fernandes dan Tandon, 1993: 19)
PRA DALAM APLIKASINYA
PRA adalah salah satu metode pendekatan yang tekanannya pada keterlibatan masyarakat dalam keseluruhan kegiatan. Pendekatan PRA memnag bercita-cita menjadikan warga masyarakat sebagai peneliti, perencana dan pelaksanaan program pembangunan dan bukan sekedar objek pembangunan.
Tantangannya adalah menemukan cara untuk mengalihkan proses dan ketrampilan penelitian dan perencanaan itu. Dengan demkian, warga masyarakat menjadi pelaku pengembangan alternatif pemecahan masalah, bukan sekedar ‘konsumen” pemecahan masalah yang dikembangkan di lembaga-lembaga riset.
PRA juga mencakup aspek penelitian, namun tekanan aspek ini bukan pada validitas ilmiah dari data yang diperoleh, namun lebih pada praktis penelitian itu sendiri, yaitu pengembangan program masyarakat.
PRA dieterjemahkan secra aharfiah berarti kira-kira penilaian atau pemahaman pedesaaan secara partisipatif. Menurut Robert Chambers PRA adalah merupakan metode dan pendekatan belajar mengenai kondisi dan kehidupan pedesaaan dari, dengan, oleh masyarakat pedesaaan sendiri. Pengertian belajar di sini adalah luas, yang meliputi : kegiatan menganalisis, merencanakan dan bertindak.
PRINSIP-PRINSIP PRA (studio Driya media untuk Konsorsium Pengembangan Dataran Tinggi Nusa Tenggara : 1994)
Ada beberapa prinsip-prinsip pelaksanaan kegiatan PRA, sebagaimana yang terangkum sebagai berikut (Disarikan dari Studio Driya media untuk Konsorsium Pengembangan Dataran Tinggi Nusa Tenggara : 1994) :
1. Belajar dari masyarakat
PRA dibangun pada pengakuan serta kepercayaan akan nilai dan relevansi pengetahuan tradisional masyarakat serta kemampuan masyrakat untuk memecahkan masalah-masalahnya sendiri.
2. Orang luar sebagai fasilitator, masyarakat sebagai pelaku
Konsekuensinya dari prinsip utama adalah perlunya “orang luar” menyadari perannya sebagai “fasilitator” dan bukannya sebagai pelaku, guru, penyuluh atau peneliti.
3. Saling belajar, saling berbagi pengalaman
Proses PRA adalah ajang dialog antara kedua system pengetahuan itu untuk melahirkan sesuatu yang lebih baik.
4. Keterlibatan semua kelompok masyarakat
Keterlibatan semua golongan masyarakat sangat penting. Golongan yang harus diperhatikan justru mereka yang paling sedikit memiliki akses dalam kehidupan sosial komunitasnya (golongan paling miskin, perempuan dan anaka-anak). Untuk identifikasi kelompok-kelompok masyarakat, melalui teknik pemetaan sosial atau penyusunan peringkat dengan matriks.
5. Santai dan informal
Kegiatan PRA dilakukan dalam suasana yang luwes, terbuka, tidak memaksa, informal dan suasana kekeluargaan. Situassi yang santai ini akan menimbulkan hubungan akrab, karena orang luar akan berproses untuk masuk sebagai anggota kelompok diskusi, bukan sebagai tamu asing yang oleh masyarakat harsu disambut dengan segala protokol.
6. Menghargai perbedaan
Masyarakat yang heterogen terdiri dari orang-orang yang akan memiliki pandangan probadai atau merupakan pandangan golongannya sendiri. Oleh karena itu, ada semangat yang harus dibina dalam melakukan PRA, yaitu semangat saling menghargai. Inti dari kegiatan PRA adalah mencoba melihat sejumlah variasi informasi dan masalah, bukan memberikan rata-rata hasil. Meskipun PRA juga memilih sampling sumber informasi, tetapi tidak dengan memeberikan nilai rata-rata secara metode statisktik. Jalankeluar dari permasalahan ini adalah dengan pengorganisasian masalah dan pengurutan prioritas masalah yang akan ditentukan oleh masyarakat sendiri sebagai pemiliknya
7. Triangulasi
Salah satu potensi PRA adalah usaha mengumpulkan dan menganalisa data secara sistematis bersama masyarakat. Usaha itu akan memanfaatkan berbagai sumber informasi yang ada. Namun kita tahu, tidak semua sumber informasi senantiasa bias dipercaya ketepatannya. Untuk mendapatkan informasi yang kedalamannya bias diandalkan kita bisa menggunakan triangulasi yang merupakan bentuk ‘pemeriksaan dan pemerikasaan ulang’ (check and recheck). Traingulasi ini dapat dilakukan antara lain melalui penganekaragaman sumber informasi (keragaman latar belakang golongan masyarakat, keragaman tempat dan variasi teknik).
8. Mengoptimalkan hasil
Salah satu masalah yang munncul dalam penerapan PRA sebagai metode yang relatif baru di kalangan lembaga-lembaga pengembangan masyarakat adalah “keterbatasan biaya”. Pelaksanaaan kegiatan PRA memerlukan waktu, tenaga nara sumber, pelaksana yang terampil dan partisipasi warga masayrakat yang keseluruhannya berkaitan dengan dana atau uang. Untuk mendayagunakan “biaya” dalam arti luas tersebut (personil yang terbatas, kekurangan waktu, jumlah dana yang tersedia dsb) untuk pelaksanaan kegiatan PRA yang memberi manfaat optimal dengan penggalian informasi yang akurat, tidak ada pilihan lain bagi kita selain mengoptimalkan hasild engan pilihan yang paling menguntungkan. Pilihan yang harus diambil menyangkut antara lain: kuantitas informasi dan kualitas atau akurasi informasi. Untuk melakukan pilihan dalam berbagai keterbatasan ini diperlukan sikap yang cermat dan realistis, jangan samapai kegiatan berskala terlalu besar dengan biaya yang tidak cukup.
9. Belajar dari kesalahan
PRA bukanlah suatu teknik tunggal yang telah selesai, sempurna dan pasti benar. Diharapkan bahwa teknik-teknik itu sennatiasa bisa dikembangkan sesuai dengan keadaan dan kebutuhan setempat. Dengan demikian, melakukan kesalahan yang sering dianggap tidak wajar dalam PRA adalah sesuatu yang wajar. Yang penting bukanlah kesempurnaan dalam penerapan, yang tentu sukar dicapai, tetapi penerapan sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan yang ada dan belajar dari kekurangan-kekurangan/kesalahan yang terjadi, agar kegiatan berikutnya menjadi lebih baik. Jadi, di sini PRA bukanlah “coba-coba” (trial and error) yang tanpa perhitungan kritis untuk meminimalkan kesalahan.
10. Orientasi praktis
PRA berorientasi praktis, yakni pemecahan masalah dan pengembangan program. Untuk itu dibutuhkan informasi yang relevan dan memadahi dan bukannya semua informasi yang bisa diperoleh tentang suatu hal. Yang diperlukan adalah pengetahuan yang optimal, tidak semua informasi perlu dicari dan digali dengan sedalam-dalamnya. PRA bukanlah kegiatan yang dilakukan demi PRA itu sendiri, melainkian kegiatan yang mencoba meningkatkan kualitas program kemasyarakatan yang sedang digarap atau yang baru akan dikembangkan.
11. Keberlanjutan dan selang waktu
Kepentingan-kepentingan dan masalah-masalah masyarakat tidaklah tetap, tetapi berubah dan bergeser menurut waktu sesuai dengan berbagai perubahan dan perkembangan baru dalam masyarakat itu sendiri. Karenanya, pengenalan masyarakat bukanlah suatu usaha yang sekali dilakukan kemudian selesai, namun merupakan suatu usaha berlanjut.
TEKNIK-TEKNIK PRA
Pengelompokkan teknik-teknik PRA yang sudah umum dalam kepustakaan adalah pengelompokkan menuruut jenis informasi yang dikumpulkan dan diolah dengan teknik itu. Adapun teknik-teknik PRA itu dikelompokkan ke dalam :
1. Teknik yang bersifat mengumpulkan informasi umum yang biasanya digunakan pada tahap awal pengembangan program dan bersifat penjajagan (eksploratif)
2. Teknik-teknik yang berkaitan dengan tata ruang (spatial)
3. Teknik-teknik yang berkaitan dengan waktu (temporal)
4. Teknik-teknik yang berkaitan dengan kelembagaan (institutional )
5. Teknik-teknik yang berkaitan dengan aspek-aspek kemasyarakatan (sosial)
6. Teknik-teknik yang berkaitan dengan aspek-aspek ekonomi dan mata pencaharian
7. Teknik-teknik yang berkaitan dengan aspek-aspek teknis tertentu (topical/teknikal) seperti tentang hama dan penyakit tanaman, kesehatan.
Pengelompokkan teknik-teknik PRA dapat juga dikelompokkan menurut cara analisisnya. Misalnya teknik-teknik yang bersifat menggambarkan (deskriptif), menganalisis (eksplanasi/menjelaskan) baik itu dengan mengurutkan, membandingkan, menyusun peringkat dan mencari sebab akibat dan teknik-teknik untuk membuat perencanaan atau pengujian alternatif kegiatan (preskripsi).
Sebenarnya, kita tidak perlu mempersoalkan masalah tersebut, sebab pengelompokkan biasanya dimaksudkan untuk mempermudah kita menetapkan teknik yang paling cocok untuk tujuan penggalian informasi tertentu. Yang paling penting adalah kemampuan kita untuk memahami masing-masing teknik yang ada dan memahami masing-masing teknik yang ada dan memilih penggunaannya sesuai dengan keperluan tersebut. Bahkan, tumpang tindih itu sesungguhnya baik, karena diperolehnya informasi yang sama atau berhubungan melalui teknik-teknik yang berbeda akan membantu kita dalam mengkaji ulang ketepatan informasi itu (fungsi traingulasi).
HAL-HAL YANG PERLU DISIAPKAN DALAM PELAKSANAAN PRA:
1. PERSIAPAN SEBELUM KE LAPANGAN
a. Penyiapan diri atau pengenalan serta orientasi diri, yang meliputi:
Pengenalan medan, kesiapan diri, adaptasi diri dengan memahami social budaya rakyat, pendekatan sosail dengan para tokoh kunci yang berpengaruh dalam masyarakat serta menemukan dan memantapkan metode dan cara pendekatan ke masyarakat
b. Koordinasi team
Perlunya sebuah team yang kompak dan solid. Oleh karena itu perlu adanya job deskripsi yang jelas antar anggota team.
2. PERSIAPAN SELAMA DI LAPANGAN
a. melebur dengan masyarakat dengan cara melakukan kunjungan awal dan pengakraban diri dengan masyarakat. Tujuan dari kegiatan ini adalah antara lain:
membangun kepercayaan dengan masyarakat
memperoleh informasi awal
membangun kontak person
menjalin pertemanan
Memberitahukan kedatangan
Terlibat sebagai pendengar
Terlibat aktif dalam diskusi
Ikut bekerja bersama-sama
b. Penerapan PRA
Kegiatan ini bertujuan untuk penggalian data primer dan sekunder, analisa social, dokumentasi (atas proses-proses yang berlangsung)
c. Merancang kegiatan awal, dilakukan dengan cara:
Mengumpulkan isu
musyawarah bersama (FGD)
Identifikasi masalah dan potensi
Menentukan agenda bersama
Dokumentasi proses
d. Implementasi kegiatan (Rencana Tindak Lanjut)
REFERENSI:
Chambers, Robert , 1996. PRA (Participatory Rural Appraisal) Memahami Desa Secara Partisipatif, penerbit Kanisius, Yogyakarta.
Darusman, Taryono , 2001. Pengalaman Belajar : Praktek Pengorgansiasisan Masyarakat di Simpul Belajar , Yayasan Puter, Bogor.
Fernandes, Walter, 1993. Riset Partisipatoris – RISET PEMBEBASAN, Gramedia, Yogyakarta.
Studio Driya Media Untuk Konsorsium Pengembangan Dataran Tinggi Nusa Tenggara, 1994. Participatory Rural Appraisal, Berbuat Bersama Berperan Bersama
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar