Tulisan ini ditulis sewaktu belajar di Randublatung, Blora, Jawa Tengah, tahun 2002
URGENSI PENDIDIKAN LINGKUNGAN BAGI ANAK
Manusia dalam kehidupannya tidak bisa terlepaskan dari lingkungan yang ada di sekitarnya, baik lingkungan sosial atau lingkungan alam. Antara ketiganya merupakan satu kesatuan yang integral . Manusia dalam keberadaannya di muka bumi sebagai khalifah sudah seyogyanyalah berusaha seoptimal mungkin memainkan perannnya. Dengan berperan secara “adil” maka diharapkan akan tercipta suatu kondisi lingkungan yang harmonis, selaras, serasi dan seimbang. Dan apa yang diidealkan oleh banyak orang selama ini akan bisa terwujud. “Lestari alamku, sejahtera masyarakatku”.
Kondisi idealita seperti itu saat ini sepertinya bak sesuatu yang langka dan mahal. Bagaimana tidak ?? Polusi udara semakin menghebat sehingga lapisan ozon makin menipis. Udara terasa panas dan bumipun ikut panas. Kebakaran hutan, penebangan hutan secara liar semakin menggila. Banyak oknum yang tidak bertanggungjawab berbuat tidak senonoh terhadap indahnya alam yang dulu hijau. Eksploitasi terhadap Sumber Daya Alam semakin rakus dan tamak. Ya…..mereka korbankan kepentingan banyak orang, banyak jiwa hanya untuk memenuhi perut mereka. Di sini banyak rakyat kecil yang jadi korbannya. Bagaimana tidak ?? Rakyat kecil yang selama ini diposisikan sebagai wong cilik, wong bodho terus didomistifikasikan oleh segelintir orang yang merasa sebagai orang yang ‘sok tahu, sok pinter, sok modern, sok idealis, dan berjuta sok yang lainnya”. Rakyat terus dibodohi.
Seiring dengan perkembangan waktu, rakyat pun semakin menjadi sadar. Bahwa ternyata selama ini mereka diperalat oleh sebagian oknum untuk memuaskan nafsu serakah “wong-wong yang merasa pinter dan berkuasa”. Ya….nafsu serakah tuk senantiasa mengeksploitasi Sumber Daya Alam yang ada. Kondisi yang timbulpun sudah pasti bisa ditebak, dilihat dan dirasakan. Persediaan Sumber Daya Alam (terutama yang tidak bisa diperbaharui) semakin menipis. Kalau sudah menipis dan lama-kelamaan habis, maka bangsa Indonesia (yang oleh dunia disebut sebagai surga-nya dunia) tinggal gigit jari. Mringis. Menyesal. Tapi, apa guna penyesalan di belakang ?? It’s useless.
Lagi-lagi, sebelum kondisi lingkungan bumi Indonesia semakin gawat darurat. Perlu diadakan recovery. Ya….Lebih baik terlambat dari pada tidak sama sekali melakukan sesuatu . (kalo cuman banyak ngomong atau nggedabul wae.. yo…sama juga bo’ong alias nonsen, dab !!!). So,…di sinilah pentingnya untuk membangun kembali kesadaran akan pentingnya pendidikan lingkungan. (ingat.. pendidikan dalam konteks ini tidak harus selalu didefinisikan sebagai pendidikan formal !! Tolong , pendidikan dalam konteks ini dimaknai secara “luas”. Bahwa pendidikan itu tidak terbatas ruang dan waktu. Kapan saja, di mana saja, kita bisa memperoleh pendidikan tersebut !!)
Pendidikan yang penting sebenarnya dimulai dari lingkungan sosial yang paling kecil, yaitu keluarga. Keluarga yang berfungsi salah satunya untuk pendidikan menjadi basic yang kuat dalam proses internalisasi nilai-nilai yang diterapkan oleh suatu unit sosial yang terkecil tersebut. Mengapa keluarga menjadi basic dalam konteks pendidikan lingkungan ini ?? Hal ini tentu saja kembali kepada fungsi dari lembaga keluarga itu sendiri. Seorang anak, pertama kali akan menerima nilai-nilai sosial yang ada di sekitarnya itu diawali dengan adanya sosialisasi yang dilakukan oleh orang tua. Atau singkatnya adalah bahwa lingkungan pertama yang dikenal pertama kali oleh seorang anak adalah lingkungan keluarga. (Terutama orang tua, Bapak dan Ibu .) Adanya proses sosialisasi ini, maka si anak akan menginternalisasi apa yang mereka dapat serap dan terima. Dan pada akhirnya apa yang mereka internalisasi itu biasanya akan menjadi panduan bagi si anak dalam rangka membentuk jati dirinya. (dalam konteks ini orang tua di pandang sebagai “ figur ideal” bagi si anak.)
Karena begitu pentingnya peran pendidikan keluarga bagi pengembangan kepribadian anak, maka disinilah dituntut agar keluarga bisa benar-benar sebagai “laboratorium mini” yang kondusif bagi si anak. Keluarga harus mengembangkan sistem yang ada dalam instisusi kecil tersebut secara adil , harmonis, transparan, aspiratif dan demokratis. Sehingga pada akhirnya bisa tercipta suatu kondisi yang memang benar-benar kondusif.
Dalam konteks pendidikan lingkungan bagi si anak , keluarga berperan sebagai “agent of values transformation”. Institusi ini mempunyai fungsi untuk mensosialisasikan kepada anak akan urgensi lingkungan yang sehat, baik lingkungan sosial ataupun lingkungan alam yang ada di sekitarnya. Lingkungan sosial yang sehat artinya adalah bahwa selaku anggota masyarakat setiap orang harus bisa berperan sesuai dengan kapabilitasnya. Artinya adalah bahwa dalam suatu lembaga sosial yang lebih besar (dalam hal ini masyarakat) orang harus mengetahui akan sistem , nilai –nilai dan budaya yang ada di sekitarnya. Sehingga ia bisa memainkan perannya sebagai “makhluk sosial’ secara baik, tanpa ada kepincangan pergaulan yang menajam, yang pada akhirnya bisa membawa implikasi pada timbulnya “penyakit sosial” yang akut.
Sementara itu , lingkungan alam yang sehat mempunyai makna bahwa apa yang ada di muka bumi sebagai kekayaan alam ( baik SDA yang bisa diperbaharui atau tidak bisa diperbaharui) , yang telah dianugerahkan oleh Tuhan YME harus kita jaga, kita rawat dan kita manfaatkan secara adi, selaras dan optimal dengan tetap memperhatikan kelestariannya. Artinya , dalam konteks ini kita tidak boleh mengesksploitasi SDA yang di luar batas kewajaran. Kalau sampai kita (manusia-manusia yang diamanahi oleh Tuhan untuk memanaj SDA yang ada) melakukan itu, maka tidak segan-segan Tuhan memberikan hukumannya. (Seperti apa yang telah di-nash-kan Oleh-Nya dalam kitab suci Alqur’an).
Namun apa daya, ternyata manusia lupa dengan apa yang telah difirmankan oleh Tuhan. (Atau manusia memang sengaja melupakan batasan-batasan yang telah diberikan oleh Tuhan ??!!) Kondisi riil yang ada menunjukkan pada kita semua bahwa degradasi lingkungan telah terjadi di bumi Indonesia. Ibu pertiwi sedih. Ibu pertiwi menangis. Indonesia yang dikenal oleh dunia sebagai negeri yang kaya akan sumber daya alamnya dan masyarakatnya yang ramah ternyata tidak seindah apa yang dinilai oleh dunia . Atau lebih tepatnya lagi, (kalau memang kita jujur dan gentle tuk mengakuinya) seharusnya kita malu dengan apa yang ada dalam kenyataannya. Sebagian kecil masyarakat Indonesia ternyata tidak ramah terhadap lingkungannya. Dan justru malah berbuat seenaknya sendiri.
Diakui dengan sesungguhnya bahwa tugas menjaga, merawat dan mengamankan keselamatan SDA yang ada di bumi Indonesia (yang sudah semakin kritis ini…….) bukan merupakan tanggung jawab si A, si B atau si C. Tapi sebenarnya merupakan tanggungjawab bersama. Ya…bersama !!! Dan ini harus dimulai dari lingkup sosial yang paling kecil, seperti keluarga. Ketika dalam lingkup yang paling kecil sudah “beres” (tertib lingkungan-red), Insya Allah ini akan bisa membawa dampak yang luas bagi terciptanya tertib lingkungan di tingkat masyarakat.
Lalu yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana agar institusi-institusi sosial di atas keluarga bisa mendukung “ green movement ” (that green is beautiful…and beautiful is peace….) ??? Dalam konteks ini, kita ambil sekup yang lebih sempit saja. Instistusi pendidikan sekolah (dalam artian formal). Dalam institusi ini, sekolah yang selama ini dipandang sebagai “agent of change” harus mengubah paradigmanya. Selama ini paradigma sistem pendidikan yang ada selalu menitikberatkan pada “pencetakan-pencetakan” SDM-SDM yang siap menjadi tenaga kerja yang hightech, yang mampu berkompetisi dalam era globalisasi (bahkan gombalisasi…he..he…he…).
Dengan adanya perubahan paradigma ini diharapkan akan terlahirkan SDM-SDM yang benar-benar berkualitas dan mempunyai sense of nature and human being yang tinggi. Dan alam (khususnya alam Indonesia) pun akan terselamatkan dari tangan-tangan manusia yang haus akan eksploitasi SDA yang hanya berorientasi pada “self interest”.
Lalu, LSM “yang selama ini tetap kuat jargonnya” , sebagai “controller of government” di mana ia berperan ?? LSM dalam konteks ini akan tetap ugent dalam keberadaannya. Ia bisa memberikan input-input alternatif yang solutif bagi pemerintah dalam kerangka mensukseskan gerakan “Cintailah Alammu..!!”. Ya….gerakan besar (green and peace movement) memang harus disadari sebagai gerakan jangka panjang . Ini artinya merupakan suatu proses yang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Dan proses ini harus dimulai dari kita masing-masing, keluarga kita, masyarakat dan sebagainya. Keep on surviving the green nature…!!! Green is beautiful….Beautiful is peace…!! (Big something must be started from small thing….) Let’s make everything better…!!
Kamis, 17 Juni 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar